“Iran memandang Bab El Mandeb seperti halnya Hormuz. Jika Gedung Putih mengulangi kesalahannya, maka mereka akan segera menyadari bahwa aliran energi dan perdagangan global dapat terganggu hanya dengan satu sinyal,” ujar penasihat pemimpin tertinggi Iran Ali Akbar Velayati pada 5 April.
Negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, kini mendorong solusi diplomatik untuk meredakan ketegangan dan menghindari skenario terburuk yang dapat mengguncang ekonomi global.
Baca Juga:
Rutan Sidikalang Gelar Penyuluhan Kesehatan dan Bagi Vitamin untuk WBP
Meski di ruang publik kedua pihak menunjukkan sikap keras, komunikasi melalui jalur mediator masih terus berlangsung sebagai upaya menjaga peluang dialog tetap terbuka.
Di sisi lain, Iran juga melontarkan ancaman serius terhadap pelabuhan negara-negara tetangga jika tekanan terhadap mereka terus meningkat.
“Jika keamanan pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Laut Oman terancam, maka tidak ada pelabuhan di kawasan tersebut yang akan aman,” demikian pernyataan militer Iran yang disiarkan IRIB News.
Baca Juga:
MPLS, SMK Swasta Rismaduma Gandeng Koramil 01 Sumbul dan Kemenag Dairi
Analis menilai bahwa risiko eskalasi tetap tinggi, terutama jika kedua pihak tidak segera menemukan titik temu melalui jalur diplomasi.
“Itu akan menjadi cara bagi Iran untuk membalas, dengan mengatakan bahwa jika Anda membatasi ekspor minyak kami, maka kami akan mengganggu ekspor dari terminal Yanbu,” ujar analis SEB Erik Meyersson.
Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam posisi rawan, dengan dampak yang berpotensi meluas ke stabilitas perdagangan dan pasokan energi global.