Sementara itu, Jepang bersiap meluncurkan program pendidikan LGBTQIA+ secara nasional untuk pertama kalinya yang akan diterapkan di sekolah, universitas, tempat kerja hingga lingkungan keluarga.
Sejumlah media di Jepang melaporkan langkah tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keragaman gender dan orientasi seksual di negara yang hingga kini belum melegalkan pernikahan sesama jenis.
Baca Juga:
Anak Putri Mahkota Norwegia Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Pemerkosaan
Dalam draf program yang beredar disebutkan bahwa kelompok LGBTQIA+ dapat "mengalami kebingungan, kecemasan, dan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari karena kurangnya pemahaman publik."
Program tersebut merupakan hasil pengembangan selama bertahun-tahun setelah disahkannya Undang-Undang tentang Peningkatan Pemahaman Publik tentang Keragaman Orientasi Seksual dan Identitas Gender pada 2023 yang mewajibkan pemerintah menyusun rencana tersebut.
Meski demikian, pemerintah Jepang hingga kini belum merilis dokumen final dan para ahli masih menunggu rincian lebih lanjut mengenai implementasinya.
Baca Juga:
Mahasiswi Diduga Gelapkan Dana Organisasi KIP-K, Unair Sebut Ada Masalah Tata Kelola
Dari Brasil, sebuah insiden tragis menewaskan seorang perempuan berusia 21 tahun setelah melompat dari Jembatan Skeleton di pedalaman Negara Bagian São Paulo tanpa tali pengaman yang terpasang dengan benar.
Dalam video yang beredar di media sosial terlihat dua pria mengangkat korban di atas kepala mereka sebelum melemparkannya dari ketinggian sekitar 40 meter.
Beberapa saat setelah korban terjatuh, orang-orang yang berada di sekitar lokasi menyadari tali pengaman belum terpasang dan terdengar berteriak, "Hei, talinya!"