Seorang wakil Menteri Luar Negeri Rusia tahun lalu menyatakan bahwa Rusia bersedia memindahkan pasokan uranium dari Iran dan mengubahnya menjadi bahan bakar reaktor sipil guna memfasilitasi negosiasi.
Pemindahan stok uranium Iran menjadi salah satu tuntutan utama AS dalam perundingan damai untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak Jumat (28/2/2025) -- dengan sebagian besar material, sekitar 450 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan 60 persen, terkubur di bawah situs nuklir Iran yang dibombardir AS dan Israel pada Juni tahun lalu.
Baca Juga:
Baru Sebulan Menikah, Suami di Minahasa Tega Bunuh Istri
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Iran akan menyerahkan stok tersebut secara sukarela atau AS akan mengambilnya dengan cara lain.
Peskov juga menolak pembenaran perang antara AS dan Israel terhadap Iran dengan menegaskan bahwa Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tidak pernah menemukan bukti bahwa Iran sedang membangun senjata nuklir.
Menurutnya, tuduhan tersebut digunakan "sebagai dalih untuk agresi".
Baca Juga:
Momen Paus Leo di Aljazair, Ucap Salam Islam hingga Masuk Masjid
Saat ditanya soal kemungkinan dukungan militer Rusia kepada Iran, Peskov menegaskan: "Rusia tidak ikut serta dalam hal ini. Ini bukanlah perang kami."
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Moskow memberikan bantuan militer kepada Teheran "dalam berbagai arah", tanpa merinci apakah mencakup intelijen terhadap pasukan AS.
Utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff sebelumnya mengatakan Putin secara langsung meyakinkan Trump bahwa Rusia tidak berbagi intelijen dengan Iran.