Walaupun bersifat radioaktif, namun kandungan depleted uranium jauh lebih sedikit ketimbang uranium yang dihasilkan secara alami.
AS pernah menggunakan amunisi depleted uranium dalam jumlah besar pada Perang Teluk 1990 dan 2003 serta pemboman NATO di bekas Yugoslavia pada 1999.
Baca Juga:
Tarif 32% Trump Ancam Ekspor Indonesia, Pemerintah Didesak Bertindak Cepat
Agensi Energi Atom Internasional selaku pengawas nuklir PBB mengatakan bahwa penelitian di bekas Yugoslavia, Kuwait, Irak dan Lebanon menunjukkan bahwa keberadaan residu depleted uranium yang tersebar di lingkungan tidak menimbulkan bahaya radiologis bagi penduduk di wilayah yang terkena dampak.
Kendati demikian, bahan radioaktif juga dapat menambah tantangan pada pembersihan besar-besaran pascaperang di Ukraina.
[Redaktur: Sandy]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.