Berbeda dengan dua pendahulunya Liaoning dan Shandong yang merupakan hasil modifikasi dari rancangan Rusia, Fujian sepenuhnya dirancang dan dibangun di dalam negeri oleh para insinyur China.
Kapal ini juga mengadopsi teknologi sistem peluncur elektromagnetik (EMALS) yang sebelumnya hanya dimiliki kapal induk kelas Ford milik Amerika Serikat (AS).
Baca Juga:
Perang Lawan AS-Israel, Diam-diam China Bantu Iran
Dengan teknologi tersebut, Fujian dapat meluncurkan lebih banyak jet tempur berbeban senjata lebih berat, meningkatkan efisiensi dan daya tempur di medan laut.
Kehadiran Fujian disebut sebagai simbol nyata komitmen Presiden Xi Jinping dalam mempercepat program modernisasi militer China.
Xi menargetkan angkatan bersenjata negaranya menjadi sepenuhnya modern pada 2035, dan bertransformasi menjadi militer kelas dunia yang mampu menandingi AS pada 2050.
Baca Juga:
PT Basic International Sumatera di KEK Sei Mangkei Diduga Bangun Mess TKA di Lingkungan Perusahaan
“Kapal induk merupakan kunci bagi visi kepemimpinan China untuk menjadi kekuatan besar dengan armada laut samudra biru,” ujar Greg Poling, Direktur Asia Maritime Transparency Initiative di Center for Strategic and International Studies (CSIS), kepada Associated Press.
Menurut Poling, Angkatan Laut China bertujuan mendominasi perairan strategis seperti Laut China Selatan, Laut China Timur, dan Laut Kuning.
“Kapal induk tidak terlalu berguna di kawasan First Island Chain, tetapi menjadi sangat penting bila China ingin menantang dominasi Amerika di kawasan Indo-Pasifik yang lebih luas,” kata Poling.