Korea Utara dan Rusia juga telah menandatangani perjanjian pertahanan bersama pada 2024. Mereka bersepakat untuk “segera memberikan bantuan militer dan bantuan lain dengan semua sarana yang tersedia” bila salah satu pihak diserang.
Pada Januari 2025, pejabat Barat melaporkan kepada BBC bahwa sekitar 11.000 tentara Korea Utara dikirim untuk membantu Rusia berperang di Ukraina, sebagai imbalan atas bantuan finansial dan teknologi.
Baca Juga:
Jika Agresi Militer Berlanjut, Iran Ancam Serangan Balasan ke AS
Sementara itu, hubungan ekonomi Korea Utara dan China juga terus menguat. Data bea cukai China menunjukkan perdagangan antara kedua negara naik 33%, mencapai US$1,05 miliar pada paruh pertama 2025.
Analis menilai Beijing kini berusaha mendekat kembali ke Pyongyang setelah sempat menjaga jarak akibat kedekatan militer Korea Utara dengan Rusia. Dengan meningkatnya minat Washington dan Seoul untuk membuka dialog baru, China tampaknya ingin memastikan posisinya tetap strategis.
Profesor Kang menyebut, dalam tatanan geopolitik baru ini, pencabutan sanksi dari AS tidak lagi menjadi prioritas mendesak bagi Korea Utara seperti pada 2018 dan 2019.
Baca Juga:
Presiden Trump Hadapi Tenggat 60 Hari Soal Iran, Harga Minyak Tembus US$114 per Barel
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.