WAHANANEWS.CO, Jakarta – Pada Senin, Trump mengirimkan sinyal yang beragam dengan menyebut perang di Iran sebagai "ekspedisi jangka pendek" yang bisa berakhir "segera".
Krisis Iran saat ini tengah merambat ke arah yang semakin tidak menentu bagi pemerintah, investor, hingga warga sipil biasa.
Baca Juga:
Konflik Timur Tengah Tekan Ekonomi Dunia, IMF Ingatkan Risiko Besar
Kondisi ini sangat bergantung pada keputusan individu dari para pemimpin yang sulit diprediksi, termasuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi baru Iran yang belum teruji, Mojtaba Khamenei.
Namun di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa perang tidak boleh berakhir sebelum Iran kehilangan kapasitas total dalam mengembangkan persenjataan yang bisa digunakan melawan AS, Israel, atau sekutu lainnya.
Melansir CNBC Indonesia, analis Brett H. McGurk, menjelaskan bahwa di dalam Gedung Putih, para pakar biasanya memodelkan potensi skenario akhir yang paling mungkin, kasus terbaik, dan hasil terburuk. Lalu bagaimana dengan akhir perang Iran VS AS-Israel ini.
Baca Juga:
Survei Ungkap 52 Persen Publik AS Ingin Trump Dimakzulkan
1. Iran yang Terkendali
Skenario pertama dengan peluang 60% adalah "Iran yang Terkendali". Ini serupa dengan kondisi Irak pada tahun 1990-an.
Dalam skenario ini, mengutip CNN International, Trump memberikan waktu yang dibutuhkan militer untuk menyelesaikan misi melumpuhkan kekuatan Iran. Sementara AS dan mitranya berupaya menahan guncangan ekonomi.