Departemen Luar Negeri AS kembali menegaskan harapannya agar pemerintah Irak segera mengambil langkah konkret untuk membongkar seluruh jaringan yang dianggap menjadi instrumen destabilisasi Iran di negara tersebut, termasuk IRGC dan milisi yang bersekutu dengannya.
Dalam pertemuan antara Perdana Menteri (PM) Irak Ali al-Zaidi dan utusan AS Tom Barrack awal pekan ini, kedua pihak membahas rencana pelucutan senjata dan pembubaran seluruh kelompok bersenjata yang berada di luar kendali negara. Pemerintah Irak juga berkomitmen memastikan wilayahnya tidak digunakan untuk mengancam keamanan kawasan.
Baca Juga:
Perang Amerika Serikat-Israel Vs Iran dan Dedikotomi Islam
Menurut sumber keamanan Irak, kelompok-kelompok baru tersebut setidaknya melakukan tiga serangan drone ke Kuwait, dua ke Arab Saudi, dan dua ke UEA. Salah satu target yang disebut adalah Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS. Namun Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen laporan tersebut.
Pejabat Irak menilai pembentukan sel-sel baru itu bertujuan memberikan ruang penyangkalan bagi Iran, sehingga serangan tidak langsung dikaitkan dengan milisi besar yang selama ini dikenal dekat dengan Teheran. Aparat keamanan Irak kini tengah menyelidiki rantai komando kelompok-kelompok tersebut guna mencegah serangan serupa di masa depan.
Perang yang melibatkan Iran sebelumnya telah mengguncang kawasan penghasil energi terbesar dunia. Gangguan pasokan energi dan lonjakan harga komoditas sempat meningkatkan tekanan inflasi global. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Teheran juga memicu kekhawatiran pasar karena jalur tersebut dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Baca Juga:
Trump Berbalik Arah: Siap Tinggalkan Israel Demi Damai Timur Tengah
Munculnya sel-sel baru pro-Iran ini menjadi tantangan awal bagi pemerintahan Zaidi yang baru menjabat bulan lalu. Selain berpotensi memperumit hubungan Baghdad dengan Washington, aktivitas kelompok tersebut juga dapat mengganggu upaya Irak mempererat hubungan dengan negara-negara Teluk seperti Kuwait, Arab Saudi, dan UEA.
Ketiga negara Teluk itu bahkan telah memanggil perwakilan diplomatik Irak pada April lalu untuk menyampaikan protes atas serangan yang diduga berasal dari wilayah Irak. Pemerintah Irak kini juga menyelidiki kemungkinan keterkaitan kelompok baru tersebut dengan serangan drone pada 17 Mei yang memicu kebakaran di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah di UEA serta serangan drone yang berhasil dicegat Arab Saudi pada hari yang sama.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.