"Drone-drone ini telah terbukti sangat efektif. Saking efektifnya, AS kini mengembangkan versi miliknya sendiri," ujar Mulroy dikutip BBC News, Kamis (12/3/2026) melansir CNBC Indonesia.
Senjata tandingan AS tersebut diberi nama Lucas (Low-Cost Uncrewed Combat Attack System). Dalam beberapa hari terakhir, militer AS mulai mengerahkan skuadron Lucas di Timur Tengah untuk membalas serangan Iran dengan taktik yang sama.
Baca Juga:
Tanpa Deklarasi, Arab Saudi Bantu Cegat Drone Iran Menuju Israel
Kepala Pasukan AS di Timur Tengah, Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa pihaknya telah mengadopsi teknologi Iran dan meningkatkannya untuk serangan balik. Pihaknya mengklaim teknologi tersebut kini justru berbalik mengancam Teheran.
"Kami telah mengambil desain Iran, membuatnya menjadi lebih baik, dan menembakkannya kembali tepat ke arah Iran," ungkap Cooper.
Baca Juga:
Perang Makin Panas, Rusia Lancarkan 90 Drone Shahed Iran ke Ukraina
Taktik Fisik-Psikologis
Meskipun sistem pertahanan udara seperti di Uni Emirat Arab (UEA) berhasil menjatuhkan mayoritas drone yang datang, strategi Iran disebut bukan sekadar soal ledakan fisik. Pakar Iran dari think tank American Enterprise Institute, Nicholas Carl, menilai Iran sengaja memaksa AS dan sekutunya menguras stok rudal interseptor yang harganya jauh lebih mahal daripada drone yang mereka kirim.
Carl menambahkan bahwa ada motif psikologis di balik hujan drone tersebut. Teheran diduga ingin menciptakan teror di kota-kota padat penduduk guna menekan pemerintahan Trump agar segera menyepakati gencatan senjata.