WAHANANEWS.CO, Jakarta - Keputusan China menutup sebagian besar ruang udara lepas pantainya selama 40 hari berturut-turut langsung memicu tanda tanya besar di dunia penerbangan internasional sekaligus menimbulkan spekulasi soal manuver militer terselubung.
Tanpa penjelasan resmi dari pemerintah China, Beijing mencadangkan wilayah udara dalam durasi yang jauh melampaui praktik normal latihan militer yang umumnya hanya berlangsung beberapa hari.
Baca Juga:
China Blak-blakan Tuding AS dan Israel Biang Kerok Blokade Selat Hormuz
Langkah tersebut dilakukan melalui penerbitan Notice to Air Missions (Notam) sebagai peringatan kepada otoritas penerbangan terkait potensi bahaya atau pembatasan ruang udara sementara.
Peringatan itu berlaku sejak Kamis (27/3/2026) hingga Selasa (6/5/2026), sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal pada Senin (6/4/2026).
Durasi panjang hingga 40 hari ini dinilai sebagai anomali karena tidak disertai pengumuman latihan militer resmi dari otoritas terkait di China.
Baca Juga:
Jepang Kerahkan Rudal Jarak Jauh Dekat China, Siaga Perang Baru Asia!
Kementerian Pertahanan maupun otoritas penerbangan sipil China hingga kini belum memberikan penjelasan terkait tujuan penetapan zona tersebut.
“Apa yang membuat ini sangat menonjol adalah kombinasi status SFC-UNL (permukaan hingga ketinggian tak terbatas) dengan durasi luar biasa 40 hari dan tanpa adanya pengumuman latihan,” ujar Ray Powell.
Menurut analis tersebut, pola ini mengindikasikan kesiapan operasional yang bersifat berkelanjutan, bukan sekadar latihan militer biasa yang bersifat temporer.