Di sisi lain, tokoh-tokoh yang berada di kubu Mohammad Bagher Ghalibaf, kepala negosiator Iran dalam pembicaraan terbaru di Swiss, menuntut agar pihak yang membocorkan informasi rahasia tersebut segera diidentifikasi.
Kalangan sentris dan reformis juga kembali melontarkan kritik terhadap lembaga penyiaran negara Iran, IRIB. Mereka selama bertahun-tahun menuduh media pemerintah itu bertindak sebagai alat politik kelompok garis keras yang berafiliasi dengan Front Paydari atau Front Stabilitas, kelompok yang selama ini didukung Nabavian.
Baca Juga:
Trump Disamakan dengan Yesus, Media Sosial Bereaksi Keras
Terlepas dari polemik kebocoran dokumen, insiden ini juga dianggap membuka tabir mengenai sejauh mana keterlibatan pemimpin tertinggi Iran dalam proses perundingan dengan AS.
Selama ini, banyak pihak menganggap Khamenei hanya memberikan arahan umum. Namun pengungkapan Nabavian mengindikasikan bahwa pemimpin tertinggi terlibat secara langsung dalam detail perundingan.
Laporan yang beredar menyebut tim negosiasi bahkan pernah menunggu hingga dua pekan untuk memperoleh petunjuk mengenai langkah berikutnya dalam pembicaraan. Selama proses tersebut, Khamenei disebut mengirimkan berbagai pertanyaan rinci kepada para perunding.
Baca Juga:
Penunjukan Mojtaba Pemimpin Iran Bentuk Perlawanan Terbuka, Ini 5 Fakta Kekayaan-Gurita Bisnis
Pemimpin tertinggi Iran sendiri tidak banyak tampil di hadapan publik sejak dimulainya pembicaraan terbaru. Ia tidak mengeluarkan rekaman suara maupun pidato publik dan lebih sering menyampaikan pandangannya melalui pernyataan tertulis.
Dalam surat kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang dipublikasikan pada Kamis lalu, Khamenei mengakui bahwa ia memiliki pandangan berbeda mengenai hasil perundingan dibandingkan presiden, namun memilih menghormati penilaian Pezeshkian dalam kondisi tertentu.
Sebelas Syarat untuk Melanjutkan Negosiasi