WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kepercayaan warga Eropa terhadap payung keamanan Amerika Serikat kini runtuh ke level yang mengkhawatirkan, setelah mayoritas responden dalam survei terbaru mengaku tidak yakin Washington akan turun tangan jika negara mereka diserang.
Temuan itu muncul dalam survei terbaru European Council on Foreign Relations atau ECFR yang dirilis pada Rabu (10/6/2026), menjelang pertemuan penting negara-negara Barat dalam forum G7 dan NATO dalam beberapa pekan mendatang.
Baca Juga:
Tak Ikut Pulang ke Liga 1, Tujuh Pemain Timnas Indonesia Ini Bertahan di Eropa
Survei tersebut menunjukkan perubahan besar dalam cara publik Eropa memandang Amerika Serikat sebagai sekutu keamanan tradisional mereka.
Selama puluhan tahun, Amerika Serikat dipandang sebagai penjamin utama keamanan Eropa, terutama melalui payung pertahanan NATO.
Namun, persepsi itu kini bergeser tajam di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kontroversi kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Baca Juga:
Trump Cabut Ancaman Tarif ke Eropa, Tegaskan Tak Gunakan Militer untuk Greenland
Para penulis laporan menyebut hasil survei tersebut menggambarkan adanya "ketidakpercayaan mendalam Eropa terhadap AS".
Survei dilakukan pada Mei 2026 di 15 negara Eropa, yakni Austria, Bulgaria, Denmark, Estonia, Prancis, Jerman, Hungaria, Italia, Belanda, Polandia, Portugal, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris.
Hasilnya, hanya 11 persen responden yang masih memandang Amerika Serikat sebagai sekutu.
Angka itu turun dari 16 persen dalam survei enam bulan sebelumnya dan merosot jauh dibandingkan November 2024 yang masih berada di level 22 persen.
Mayoritas responden kini tidak lagi melihat Amerika Serikat sebagai sekutu dekat, melainkan sekadar mitra yang diperlukan.
Bahkan, 13 persen warga Eropa menyebut Amerika Serikat sebagai rival, sementara 12 persen lainnya menganggap negara itu sebagai musuh langsung.
Temuan yang lebih tajam terlihat pada hilangnya keyakinan publik Eropa terhadap komitmen pertahanan Washington.
Mayoritas responden di seluruh negara yang disurvei menyatakan tidak lagi percaya Amerika Serikat akan datang membantu jika negara mereka menghadapi serangan militer.
Sebaliknya, warga Eropa justru lebih menaruh harapan kepada negara-negara tetangga di kawasan sendiri jika krisis keamanan terjadi.
Kecuali di Bulgaria, mayoritas responden di berbagai negara menyatakan percaya bahwa setidaknya beberapa negara Eropa akan memberikan bantuan jika negara mereka diserang.
Pandangan itu juga muncul di Prancis, Italia, Belanda, dan Swedia, meski negara-negara tersebut memiliki kekuatan politik sayap kanan yang cukup besar.
Menurut laporan ECFR, sejumlah kebijakan Donald Trump menjadi faktor penting yang mendorong perubahan persepsi tersebut.
Faktor itu antara lain sikap agresif Amerika Serikat di Timur Tengah, ancaman terhadap Greenland, pernyataan soal kemungkinan penarikan pasukan AS dari pangkalan-pangkalan militer di Eropa, hingga keraguan Trump terhadap masa depan NATO.
Meski demikian, banyak warga Eropa masih meyakini hubungan transatlantik dapat membaik setelah Trump tidak lagi menjabat sebagai presiden Amerika Serikat.
Di hampir seluruh negara yang disurvei, pandangan dominan menyebut hubungan Amerika Serikat dan Eropa kemungkinan akan menjadi lebih baik setelah Trump meninggalkan Gedung Putih.
Pandangan itu dianut oleh lebih dari 60 persen responden di Prancis, Spanyol, Denmark, Belanda, dan Swedia.
Di sisi lain, survei juga memperlihatkan meningkatnya dukungan publik terhadap upaya memperkuat pertahanan Eropa secara mandiri.
Jana Kobzová, salah satu penulis laporan sekaligus peneliti senior ECFR, mengatakan warga Eropa kini semakin siap mengurangi ketergantungan terhadap Washington.
"Di seluruh benua, ada dukungan yang jelas untuk mengurangi ketergantungan pada Washington," kata Kobzová.
Menurut Kobzová, perubahan itu terlihat bukan hanya pada sikap politik, tetapi juga pada kesiapan publik menerima peningkatan belanja pertahanan.
"Warga Eropa semakin terbuka terhadap peningkatan belanja pertahanan dan, yang terpenting, menunjukkan tingkat kepercayaan yang mencolok bahwa negara-negara tetangga akan datang membantu mereka dalam sebuah krisis," kata Kobzová.
Rekan penulis laporan, Paweł Zerka, menilai perubahan sikap publik tersebut membuka momentum baru bagi pemimpin Eropa.
Menurut Zerka, tuntutan warga agar Eropa lebih mandiri dalam urusan keamanan telah menciptakan dorongan politik yang tidak bisa diabaikan.
Ia menyebut dorongan itu telah "menciptakan jendela peluang bagi para pemimpin Eropa untuk bergerak lebih jauh dan lebih cepat" dalam bidang keamanan.
Survei menunjukkan warga Eropa kini rata-rata 4 persen lebih mendukung peningkatan anggaran pertahanan nasional dibandingkan tahun lalu.
Italia menjadi satu-satunya negara dalam survei tersebut yang mayoritas respondennya masih menolak peningkatan belanja militer.
Selain itu, sebanyak 47 persen responden mendukung skema utang bersama Uni Eropa untuk membiayai peningkatan pertahanan kawasan.
Sementara itu, 35 persen responden menyatakan menolak skema utang bersama tersebut.
Dukungan terbesar terhadap skema ini muncul di Portugal sebesar 59 persen, Denmark 56 persen, Belanda 55 persen, dan Spanyol.
Tren lain yang ikut menguat adalah dorongan untuk mengurangi ketergantungan terhadap persenjataan buatan Amerika Serikat.
Di hampir seluruh negara yang disurvei, mayoritas responden menyatakan negaranya perlu mengurangi ketergantungan strategis pada perangkat militer Amerika.
Dukungan terhadap konsep membeli produk pertahanan Eropa paling kuat terlihat di Denmark sebesar 75 persen.
Dukungan serupa juga muncul di Belanda sebesar 72 persen, Swedia 70 persen, Portugal 69 persen, Prancis 66 persen, Swiss 64 persen, Inggris 62 persen, dan Spanyol 62 persen.
Namun, dukungan publik langsung melemah ketika peningkatan belanja pertahanan dikaitkan dengan pemangkasan anggaran publik domestik.
Penolakan terbesar terhadap pemangkasan anggaran domestik muncul di Italia sebesar 63 persen.
Penolakan serupa juga terlihat di Austria sebesar 59 persen, Jerman 56 persen, Spanyol 54 persen, dan Denmark 52 persen.
Meski kepercayaan terhadap Amerika Serikat menurun tajam, warga Eropa belum siap meninggalkan NATO.
Hanya 29 persen responden yang mendukung pembentukan organisasi pertahanan baru berbasis Uni Eropa untuk menggantikan NATO.
Artinya, mayoritas warga Eropa masih melihat NATO sebagai fondasi utama keamanan kawasan, meski mereka mulai meragukan reliabilitas Washington sebagai pemimpin aliansi.
Survei tersebut juga menunjukkan masyarakat Eropa tetap berhati-hati terhadap Rusia.
Meski harga energi meningkat, sebanyak 44 persen responden menyatakan melanjutkan impor minyak dan gas Rusia merupakan ide yang cukup buruk atau sangat buruk.
Namun, opini publik Eropa masih terbelah terkait masa depan Ukraina di Uni Eropa.
Di sejumlah negara seperti Hungaria, Bulgaria, Austria, Jerman, dan Estonia, jumlah responden yang menolak keanggotaan Ukraina di Uni Eropa dalam kondisi saat ini lebih besar dibandingkan mereka yang mendukungnya.
Kondisi itu menarik perhatian karena Estonia selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung kuat Kyiv dalam menghadapi Rusia.
Secara keseluruhan, survei ECFR menggambarkan Eropa yang sedang berada di persimpangan baru dalam urusan keamanan.
Warga Eropa masih belum sepenuhnya siap meninggalkan NATO, tetapi mereka semakin sadar bahwa menggantungkan keselamatan benua kepada Washington tidak lagi dianggap cukup aman.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]