WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah Pakistan mengambil langkah strategis dengan memberlakukan kebijakan pemadaman listrik terjadwal guna menekan lonjakan biaya energi yang semakin membebani di tengah tekanan global.
Kebijakan ini difokuskan pada jam-jam penggunaan listrik tertinggi pada malam hari, dengan durasi pemadaman sekitar dua jam setiap harinya.
Baca Juga:
Pemerintah Perkuat Peran UMKM dalam Program Makan Bergizi Gratis
Melansir dari media Malaysia, The Star, kebijakan tersebut diumumkan melalui kementerian energi pada Selasa, 14 April 2026.
Dalam penjelasannya, pemerintah menyebutkan bahwa pemadaman akan berlangsung dalam rentang waktu pukul 17.00 hingga 01.00, dengan total durasi sekitar dua jam lima belas menit yang diterapkan secara bergilir di berbagai wilayah.
Langkah ini diberlakukan di sebagian besar daerah di Pakistan, terutama karena meningkatnya kebutuhan listrik pada malam hari yang tidak diimbangi dengan pasokan memadai.
Baca Juga:
Samuel Wattimena Usulkan Kuota Tayang Film Lokal di Tengah Dominasi Film Asing
Produksi listrik dari pembangkit tenaga air yang biasanya menjadi andalan justru mengalami penurunan, sehingga memaksa pemerintah mengoperasikan pembangkit berbahan bakar fosil dengan biaya lebih tinggi.
Akibatnya, untuk menutup kekurangan pasokan listrik tersebut, pemerintah harus menggunakan sumber energi yang lebih mahal.
Oleh karena itu, skema pemadaman bergilir dipilih agar beban sistem kelistrikan tetap terkendali tanpa harus melakukan pemadaman serentak di seluruh wilayah.
Namun demikian, tidak semua wilayah terdampak kebijakan ini.
Kota Karachi yang merupakan kota terbesar di Pakistan dengan jumlah penduduk lebih dari 20 juta jiwa, serta Hyderabad, dikecualikan dari kebijakan pemadaman.
Kedua kota tersebut memiliki akses terhadap sumber pembangkit listrik berbiaya lebih rendah sehingga pasokan listriknya relatif lebih stabil.
Selain faktor domestik, kebijakan ini juga tidak lepas dari pengaruh kondisi global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan tersebut dipicu oleh serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Dampak konflik tersebut turut mengganggu distribusi energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas dunia.
Sekitar seperlima pasokan energi global melewati selat ini, dengan sebagian besar dikirim ke kawasan Asia.
Sebagai negara yang sangat bergantung pada jalur distribusi tersebut, Pakistan ikut merasakan dampaknya.
Meskipun pemerintah menyatakan masih mampu mengamankan sebagian pasokan energi, lonjakan harga energi global tetap tidak terhindarkan.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah berharap kebijakan pemadaman listrik terjadwal ini dapat menjadi solusi jangka pendek untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar mahal.
Selain itu, langkah ini juga ditujukan untuk mencegah kenaikan tarif listrik yang lebih tinggi yang berpotensi membebani masyarakat secara luas.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]