Ketegangan antara Israel dan Hizbullah masih terus berlangsung meski gencatan senjata telah beberapa kali diupayakan.
Pemerintah Lebanon menuding Israel berulang kali melanggar kesepakatan penghentian konflik melalui serangan udara maupun operasi militer di wilayah perbatasan.
Baca Juga:
Media AS Ramai-ramai Serang Trump, Kesepakatan Damai Iran Disebut Untungkan Teheran
Qassem juga menyoroti keberadaan pasukan Israel yang masih bertahan di sejumlah lokasi strategis. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap kedaulatan Lebanon belum sepenuhnya berakhir.
"Bagaimana Anda bisa mengharapkan kami untuk tidak berdiri tegar sementara Israel melanjutkan agresinya, terus menduduki lima titik, dan terus memasuki wilayah kami dan membunuh? Kami tidak akan menjadi bagian dari legitimasi pendudukan di Lebanon dan kawasan ini," ujarnya.
Sementara itu, Amerika Serikat dan sejumlah pihak internasional terus mendorong upaya pelucutan senjata Hizbullah sebagai bagian dari langkah menjaga stabilitas kawasan.
Baca Juga:
Damai dengan AS, Iran Berpeluang Kantongi Dana Investasi Rp5.342 Triliun
Namun, pemerintah Lebanon menilai proses tersebut tidak mudah dilakukan selama persoalan pendudukan wilayah dan pelanggaran gencatan senjata masih menjadi sumber ketegangan.
Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa isu pelucutan senjata merupakan persoalan yang sangat sensitif dan membutuhkan pendekatan politik yang hati-hati.
Pemerintah Lebanon juga menilai penarikan penuh pasukan Israel menjadi faktor penting dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan tercapainya solusi jangka panjang.