WahanaNews.co | Salah satu jurnalis Filipina sekaligus pendiri media Rappler, Maria Ressa, menjadi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2021 pada Jumat (8/10/2021).
Nama Ressa terus menjadi sorotan setelah ia dan medianya vokal menyuarakan dugaan penyalahgunaan kekuasaan pemerintahan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte.
Baca Juga:
Gunung TPA Ambruk Tengah Malam, Puluhan Orang Terkubur Sampah di Cebu Filipina
Ressa bahkan kerap beradu argumen dengan Duterte yang menganggap Rappler sebagai media penyebar hoaks.
"Maria Ressa menggunakan kebebasan berekspresi untuk mengungkap penyalahgunaan kekuasaan, penggunaan kekerasan, dan otoritarianisme yang berkembang di negara asalnya, Filipina," kata Komite Hadiah Nobel Norwegia, dalam jumpa pers.
Ressa dan sejumlah temannya mendirikan Rappler, media digital yang fokus pada jurnalisme investigasi, pada 2012.
Baca Juga:
Filipina Dorong Finalisasi Kode Etik Laut China Selatan Saat Pimpin ASEAN 2026
Sejak itu, ia duduk menjadi CEO Rappler.
Di bawah kepemimpinan Ressa, Rappler vokal mengungkap ketidakberesan rezim Duterte, terutama terkait kampanye anti-narkobanya yang dinilai banyak pihak sarat pelanggaran hak asasi manusia.
Duterte memberikan kewenangan kepada aparat keamanan Filipina, terutama polisi, untuk meluncurkan penangkapan besar-besaran terhadap para pengedar dan pengguna narkoba.