WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ancaman perang energi di Timur Tengah kian memanas setelah Iran memperingatkan akan menyerang seluruh infrastruktur vital terkait Amerika Serikat dan Israel jika fasilitas listriknya diserang.
Pernyataan keras itu disampaikan militer Iran yang juga memasukkan fasilitas desalinasi air sebagai target potensial, sebuah langkah yang dapat memicu krisis kemanusiaan di kawasan Teluk.
Baca Juga:
Ramai Soal Dana BoP Rp17 Triliun, Prabowo Pastikan Indonesia Tak Ikut Bayar
“Jika pembangkit listrik kami diserang, maka semua infrastruktur energi yang terkait dengan AS dan Israel akan menjadi sasaran,” demikian peringatan yang disampaikan pihak Iran.
Juru bicara komando pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa target serangan tidak hanya terbatas pada energi, tetapi juga mencakup fasilitas teknologi informasi dan pabrik desalinasi.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengultimatum Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Baca Juga:
Risiko Defisit Menghantui, Prabowo Tetap Pertahankan Program Makan Gratis
“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz, tanpa ancaman apapun, dalam waktu 48 jam dari sekarang, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan semua fasilitas energinya, dimulai dari yang terbesar,” tulis Trump pada Ahad (23/3/2026).
Ultimatum tersebut secara langsung mengaitkan kebebasan pelayaran global dengan keberlangsungan infrastruktur energi Iran, sehingga memperbesar risiko eskalasi konflik.
Sebelumnya, Iran telah menunjukkan konsistensinya dalam menindaklanjuti ancaman militer, termasuk menyerang pangkalan AS di kawasan setelah serangan pembuka pada Jumat (28/2/2026) yang menewaskan sejumlah prajurit Amerika.
Iran juga sempat menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap tekanan militer, yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia hingga mendekati 150 dolar AS per barel.
Ketegangan semakin meningkat setelah serangan Israel ke ladang gas Pars Selatan pada Rabu (19/3/2026) dibalas Iran dengan menyerang fasilitas minyak dan gas di Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait.
Kerusakan paling besar terjadi di fasilitas gas alam cair Ras Laffan di Qatar, yang menyebabkan terganggunya produksi energi global.
Akibat kerusakan tersebut, QatarEnergy menetapkan status force majeure pada kontrak jangka panjang hingga lima tahun ke depan, memicu ketidakpastian pasokan energi ke berbagai negara.
Negara-negara seperti Italia, Belgia, Korea Selatan, dan China menjadi pihak yang terdampak langsung akibat gangguan tersebut.
Perusahaan energi global seperti ExxonMobil dan Shell juga menghadapi ketidakpastian operasional akibat konflik yang belum mereda.
Ketegangan kembali memuncak setelah Iran meluncurkan serangan balasan terhadap fasilitas nuklir Israel di Natanz pada Sabtu (23/3/2026).
Serangan tersebut dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan Israel dan menghantam wilayah Dimona serta Arad, menyebabkan lebih dari seratus warga mengalami luka-luka.
Di sisi lain, fasilitas desalinasi yang kini terancam memiliki peran krusial dalam menopang kehidupan di kawasan Teluk yang minim sumber air tawar.
Proses desalinasi sendiri merupakan teknologi yang mengubah air laut menjadi air layak konsumsi untuk kebutuhan domestik, industri, dan irigasi.
Kawasan Teluk sangat bergantung pada teknologi ini karena kondisi geografis yang kering serta keterbatasan sumber air alami.
Laporan menyebutkan bahwa air tanah dan hasil desalinasi menyumbang sekitar 90 persen kebutuhan air di kawasan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, ketergantungan terhadap desalinasi semakin meningkat seiring menurunnya kualitas air tanah akibat perubahan iklim.
Lebih dari 400 fasilitas desalinasi tersebar di sepanjang pesisir Teluk, menjadikannya salah satu wilayah dengan kapasitas desalinasi terbesar di dunia.
Negara-negara anggota GCC bahkan menyumbang sekitar 60 persen kapasitas desalinasi global dan menghasilkan hampir 40 persen air hasil desalinasi dunia.
Sebagian besar kebutuhan air minum di negara-negara seperti Kuwait, Oman, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada fasilitas ini.
Keberadaan desalinasi juga menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi kawasan sejak era eksploitasi minyak pada abad ke-20.
Dengan meningkatnya eskalasi konflik, ancaman terhadap fasilitas ini berpotensi memicu krisis air yang berdampak luas bagi stabilitas regional dan global.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]