WAHANANEWS.CO, Jakarta - Israel kini berada di posisi sulit setelah kerangka kesepakatan Amerika Serikat dan Iran dinilai belum menyentuh sejumlah tuntutan keamanan utama Tel Aviv.
Kesepakatan sementara itu kembali membuka perdebatan besar mengenai arah strategi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam menghadapi program nuklir Iran dan pengaruh Teheran di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga:
Iran Bakal Serang Perusahaan Elon Musk di Timur Tengah, Upaya Balas Dendam
Dalam kerangka awal yang muncul pada Selasa (16/6/2026), sejumlah poin yang menjadi perhatian Israel disebut belum diatur secara rinci.
Beberapa poin tersebut meliputi pembatasan program rudal balistik Iran, mekanisme penghentian dukungan finansial terhadap kelompok bersenjata, serta jaminan keamanan bagi Israel di tengah potensi pelonggaran sanksi ekonomi.
Israel khawatir pelonggaran sanksi justru memberi ruang fiskal lebih besar bagi Iran untuk kembali memperkuat jaringan regionalnya.
Baca Juga:
Tangis Ayah Pecah di Hebron, Bayi Palestina Tewas Setelah Tentara Israel Lepaskan Tembakan
Kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman menjadi dua aktor yang selama ini disebut sebagai bagian penting dari pengaruh Iran di kawasan.
Dilansir dari The New York Times, Selasa (16/6/2026), dokumen kerangka kesepakatan sementara itu juga belum memuat keputusan final mengenai masa depan stok uranium Iran yang telah diperkaya tinggi.
Batasan teknis terhadap aktivitas pengayaan nuklir Iran disebut masih akan dibahas dalam tahapan lanjutan selama periode gencatan senjata 60 hari yang menjadi bagian dari kerangka awal tersebut.