Situasi berbeda dirasakan pemilik restoran yakitori yang menyediakan tempat makan karena kebijakan tersebut dinilai berpotensi membuat konsumen beralih ke makanan takeout.
"Sebagian pelanggan mungkin akan menganggap membeli makanan untuk dibawa pulang lebih menguntungkan," katanya.
Baca Juga:
Pascagempa Besar di Kumamoto, KBRI Tokyo Pastikan Belum Ada Laporan Korban WNI
Menurut pemilik restoran tersebut, perubahan pilihan konsumen dapat berdampak langsung terhadap jumlah orang yang datang dan makan di restoran.
"Itu bisa mengurangi jumlah pelanggan yang makan di sini," ujarnya.
Pelaku usaha restoran pun mulai memikirkan strategi untuk mempertahankan pelanggan ketika perbedaan tarif pajak takeout dan dine-in semakin besar mulai April 2027.
Baca Juga:
Gempa Dahsyat M 7,1 Hantam Jepang, Mal Meledak dan Ratusan Ribu Warga Mengungsi
"Kami harus memikirkan cara untuk menghadapi potensi penurunan tersebut," katanya.
Para pengusaha makanan dan restoran kini terus menghitung dampak kebijakan tersebut sekaligus menyiapkan penyesuaian agar perubahan pajak tidak mengganggu penjualan maupun pelayanan kepada pelanggan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.