Karier Arday di Cambridge sebelumnya banyak mendapat perhatian karena perjalanan hidup yang kerap digambarkan inspiratif.
Arday mengaku hidup dengan disleksia, keterlambatan perkembangan, dan autisme yang membuatnya belum dapat berbicara hingga usia 11 tahun.
Baca Juga:
Semarakkan Gebyar HUT RI ke-81, Kelurahan Kuta Gambir Berkolaborasi dengan Karang taruna
Ia juga menyatakan baru dapat membaca pada penghujung masa remajanya sebelum kemudian meniti perjalanan akademik hingga menjadi profesor.
Kontroversi plagiarisme mulai menguat setelah Nathan Cofnas, mantan peneliti filsafat Cambridge, secara terbuka mempertanyakan kualifikasi Arday pada Juli 2026.
The Times of London kemudian menerbitkan analisis terhadap disertasi doktoral Arday tahun 2015 pada 24 Juli 2026.
Baca Juga:
VOPUTSI Juara 1 Turnamen Volly HIPPTIS CUP ll
Analisis tersebut menyebut terdapat sejumlah bagian dalam disertasi yang identik atau hampir identik dengan karya peneliti lain.
Sorotan media kemudian meluas dari persoalan akademik menuju sejumlah klaim pencapaian Arday di luar kampus.
Media Inggris mempertanyakan klaim Arday mengenai keberhasilannya mengumpulkan dana amal sebesar 5,5 juta pound sterling melalui berbagai tantangan olahraga.