Tantangan tersebut disebut termasuk berlari 30 maraton dalam 35 hari dan menempuh jarak 600 mil dalam enam hari.
Kontroversi yang berkembang kemudian mendorong puluhan akademisi Cambridge menandatangani surat yang meminta penyelidikan independen terhadap proses pengangkatan Arday sebagai profesor.
Baca Juga:
Semarakkan Gebyar HUT RI ke-81, Kelurahan Kuta Gambir Berkolaborasi dengan Karang taruna
Universitas Cambridge pada awalnya membela Arday dengan menyatakan tuduhan plagiarisme sebelumnya telah diselidiki Liverpool John Moores University.
Liverpool John Moores University merupakan perguruan tinggi yang memberikan gelar doktor kepada Arday.
Cambridge kemudian mengubah sikap dan membuka penyelidikan baru setelah muncul informasi tambahan mengenai kualifikasi serta sejumlah jabatan kehormatan Arday.
Baca Juga:
VOPUTSI Juara 1 Turnamen Volly HIPPTIS CUP ll
Prentice juga menyatakan Universitas Cambridge akan melakukan peninjauan terhadap proses perekrutan staf akademiknya.
Namun, ia mengingatkan kasus Arday tidak boleh digunakan untuk mendiskreditkan kontribusi akademisi kulit berwarna di universitas tersebut.
“Kasus khusus ini merupakan penyimpangan dan tidak boleh digunakan untuk meragukan pekerjaan mereka atau legitimasi peran mereka di Cambridge,” kata Prentice.