"Jika Anda berperang, kami akan berperang. Jika Anda mengajukan argumen logis, kami akan menanggapinya dengan logika," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menilai negosiasi gagal karena sikap keras Washington.
Baca Juga:
Dua Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Iran Beberkan Alasannya
"Kami menghadapi maksimalisme, perubahan aturan, dan blokade saat hampir mencapai kesepakatan," katanya.
Dari pihak AS, Wakil Presiden JD Vance menyebut kegagalan kesepakatan lebih merugikan Iran. "Kabar buruknya kita belum mencapai kesepakatan, dan itu jauh lebih buruk bagi Iran dibanding AS," ujarnya.
Ketegangan ini berdampak langsung ke pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak di atas US$100 per barel, setara sekitar Rp1,7 juta. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pasokan energi global.
Baca Juga:
Usai Tantang Iran, Jenderal Uganda Ancam Turki Minta Istri Cantik & Uang Rp17 triliun
Trump juga mengakui harga energi berpotensi tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu November, yang bisa berdampak politik di dalam negeri AS.
Di sisi lain, Iran menyindir dampak kebijakan tersebut terhadap warga AS. Qalibaf bahkan memposting peta harga bensin di Washington dan menyebut masyarakat akan merindukan harga US$4-US$5 per galon (sekitar Rp68.000-Rp85.000).
Meski situasi memanas, Trump masih membuka peluang negosiasi lanjutan. Ia menyebut pembicaraan dengan Iran sebelumnya berlangsung "sangat ramah" dan optimistis Teheran akan kembali ke meja perundingan.