WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan memuncak, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerukan dunia bersatu menghadapi Iran setelah serangan rudal mengguncang kota Arad, Minggu (23/3/2025).
Dalam kunjungannya ke lokasi serangan, Netanyahu memperingatkan bahwa kemampuan militer Iran kini tidak lagi terbatas pada kawasan Timur Tengah, melainkan berpotensi menjangkau wilayah yang lebih luas hingga Eropa.
Baca Juga:
Mojtaba Khamenei: Iran Jalani 3 Perang Sekaligus, AS-Israel Mati Kutu
"Mereka memiliki kapasitas untuk menjangkau jauh ke dalam Eropa. Mereka menempatkan semua orang dalam sasaran mereka," ujar Netanyahu.
Ia kemudian mendesak para pemimpin dunia untuk segera mengambil langkah kolektif guna menghadapi ancaman tersebut, termasuk memberikan dukungan terhadap operasi militer Israel yang disebut 'Operation Roaring Lion' atau 'Epic Fury'.
Menilai eskalasi terbaru sebagai bukti ancaman global, Netanyahu menyebut serangan dalam 48 jam terakhir memperlihatkan bahwa Iran bukan sekadar ancaman regional, tetapi telah menjadi risiko bagi keamanan internasional.
Baca Juga:
Ancaman Mengerikan Iran untuk Netanyahu di Tengah Kecamuk Perang
"Kami merespons dengan kekuatan besar, tetapi tidak menargetkan warga sipil," tegasnya.
Serangan rudal Iran yang terjadi pada Sabtu dilaporkan melukai puluhan orang dan menyebabkan kerusakan signifikan di Arad, meski tidak menimbulkan korban jiwa yang oleh Netanyahu disebut sebagai sebuah keajaiban.
Mengimbau kewaspadaan, ia meminta warga Israel untuk tidak mengabaikan ancaman serangan lanjutan dan segera mencari perlindungan saat situasi darurat terjadi.
"Jangan lengah, jangan acuh," katanya.
Sejumlah pejabat Israel turut meninjau lokasi terdampak, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich yang memastikan bantuan bagi warga akan dipercepat dengan memangkas hambatan birokrasi.
"Tidak ada keluarga yang rumahnya rusak akan dibiarkan tanpa bantuan," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Gideon Sa'ar menilai serangan tersebut sebagai kejahatan perang dengan menuding Iran secara sengaja menyasar warga sipil.
Menegaskan sikap militer, Menteri Pertahanan Israel Katz menyatakan negaranya akan terus melancarkan serangan balasan selama ancaman dari Iran masih berlangsung.
"Perang tidak ditentukan oleh kalender Yahudi," ujarnya.
Di sisi lain, Presiden Israel Isaac Herzog menyampaikan optimisme bahwa konflik dapat segera berakhir, meski mengakui proses tersebut tidak akan terjadi secara instan.
Kritik muncul dari kubu oposisi, di mana Yair Golan menuduh Netanyahu memanfaatkan situasi perang untuk kepentingan politik pribadi, termasuk menunda pelaksanaan pemilu.
"Netanyahu telah menjadikan keamanan nasional sebagai alat untuk bertahan secara politik," kata Golan.
Konflik yang terus memanas antara Israel dan Iran dalam beberapa waktu terakhir kian memicu kekhawatiran global, terutama terkait potensi meluasnya eskalasi ke kawasan Eropa dan Timur Tengah.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]