Para pengungsi kehilangan berbagai sarana penting pencegahan penyakit, seperti kelambu, masker, serta layanan kesehatan rutin.
Akibatnya, tidak sedikit korban jiwa yang meninggal bukan karena konflik bersenjata, melainkan akibat penyakit yang seharusnya dapat ditangani.
Baca Juga:
Suksesi Keraton Solo Memanas, Dua Pangeran Dinobatkan, Keluarga Minta Pemerintah Turun Tangan
Tekanan berat juga dirasakan oleh fasilitas kesehatan di Thailand. Rumah Sakit Umum Mae Sot mencatat peningkatan jumlah pasien hingga sekitar 50 persen.
Lonjakan ini memicu kelelahan tenaga medis dan mendorong sejumlah dokter mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Meski berada di bawah tekanan besar, pihak rumah sakit menegaskan bahwa mereka tidak memiliki pilihan selain terus memberikan layanan kesehatan kepada pasien dari Myanmar.
Baca Juga:
Uang Miliaran Rupiah Hilang, Ashanty Akui Sempat Tuduh Anang Sebelum Temukan Dalang Sebenarnya
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kembalinya penyakit berbahaya seperti polio dan kolera.
Para pakar kesehatan memperingatkan bahwa sebagian besar wilayah Myanmar kini telah berubah menjadi “titik buta epidemiologi” akibat runtuhnya sistem pemantauan kesehatan.
Risiko mutasi penyakit, meningkatnya resistansi obat malaria, serta penyebaran tuberkulosis (TB) dan HIV berpotensi berkembang menjadi ancaman serius bagi kesehatan global.