Amerika Serikat turut memberikan tanggapan melalui Departemen Luar Negeri yang menilai insiden tersebut merupakan dampak langsung dari kebijakan migrasi Spanyol.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyebut situasi di Ceuta sebagai "bencana" dan menggambarkannya menyerupai invasi besar-besaran.
Baca Juga:
Kebakaran Hutan Dahsyat di Prancis dan Spanyol Paksa 267 Ribu Warga Mengungsi
Di sisi lain, krisis Ceuta juga memunculkan perdebatan baru terkait dugaan keterlibatan Israel dan Amerika Serikat.
Perdebatan bermula setelah Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, mengkritik sikap Spanyol terhadap Israel melalui media sosial X.
"Spanyol, yang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggurui Israel, telah mendeklarasikan keadaan darurat di Ceuta menyusul krisis terkait kebijakan imigrasinya," tulis Danon.
Baca Juga:
Gila! Spanyol Sapu Bersih Gelar Piala Dunia 2026 dengan Rekor Tak Terkalahkan
Menteri Transportasi Spanyol, Oscar Puente, merespons singkat unggahan tersebut dengan menulis, "Yah, semuanya tampaknya menjadi cukup jelas."
Komentar itu memicu spekulasi politik yang kemudian diperkuat sejumlah pengamat dan politikus Spanyol yang menduga terdapat kepentingan geopolitik di balik krisis migrasi tersebut, meski belum disertai bukti yang dapat diverifikasi.
Duta Besar Israel untuk Spanyol, Dana Erlich, kemudian menegaskan bahwa pernyataan Danny Danon tidak mencerminkan sikap resmi Pemerintah Israel.