WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah Thailand mulai menerapkan langkah penghematan energi secara besar-besaran setelah pasokan minyak global terganggu akibat konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran krisis energi di kawasan Asia.
Kebijakan tersebut diumumkan oleh Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul yang memperkenalkan berbagai langkah penghematan energi bagi aparatur pemerintah, Selasa (10/3/2025).
Baca Juga:
Kamboja Minta Dialog Perbatasan dengan Thailand Dipindahkan ke Kuala Lumpur
Langkah itu mencakup kebijakan bekerja dari rumah bagi pegawai negeri, penggunaan tangga sebagai pengganti lift, serta pembatasan konsumsi listrik di kantor pemerintahan.
Pemerintah juga memutuskan menunda perjalanan dinas ke luar negeri serta mengatur suhu pendingin ruangan di kantor pemerintah pada kisaran 26 hingga 27 derajat Celsius.
Selain itu pegawai dianjurkan mengenakan kemeja lengan pendek tanpa dasi sebagai bagian dari upaya mengurangi penggunaan pendingin ruangan.
Baca Juga:
Konflik Perbatasan Kamboja-Thailand Tewaskan 18 Warga Sipil
Kebijakan penghematan lainnya meliputi imbauan mematikan peralatan listrik yang tidak digunakan, mengurangi penggunaan mesin fotokopi, serta memperbanyak pelaksanaan rapat secara daring.
Langkah serupa juga mulai diterapkan di beberapa negara Asia lainnya yang terdampak lonjakan harga energi global.
Bangladesh dan Pakistan diketahui telah menerapkan kebijakan penghematan energi seperti penutupan sekolah sementara serta penerapan sistem kerja jarak jauh untuk menekan konsumsi listrik nasional.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Jumat (28/2/2025).
Serangan tersebut menurut pemerintah Iran menewaskan hampir 1.300 orang termasuk mantan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta ratusan siswi.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi fasilitas militer milik Amerika Serikat.
Iran juga dilaporkan menutup Selat Hormuz sejak Sabtu (1/3/2025) yang merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.
Selat tersebut menangani sekitar 20 juta barel minyak per hari serta sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global yang sebagian besar menuju pasar Asia.
"Setiap upaya Iran untuk mengganggu pengiriman energi akan memicu respons 20 kali lebih keras daripada serangan AS sebelumnya," kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Teheran, Senin (9/3/2025).
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]