WAHANANEWS.CO Jakarta – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya membawa kemajuan di berbagai sektor, tetapi juga memunculkan tantangan baru di tingkat global.
Selain menyebabkan lonjakan permintaan chip memori yang memicu kelangkaan pasokan dan kenaikan harga perangkat elektronik seperti ponsel, laptop, hingga konsol gim, ekspansi AI kini juga mulai memberikan tekanan besar terhadap kebutuhan energi listrik.
Baca Juga:
Antisipasi Krisis Listrik Saat Kemarau, ALPERKLINAS Dorong PLN Pantau Seluruh PLTA
Fenomena tersebut paling terasa di Amerika Serikat, terutama di wilayah yang menjadi pusat pembangunan data center AI berskala besar.
Meningkatnya konsumsi listrik dari fasilitas-fasilitas tersebut menyebabkan tarif energi mengalami kenaikan, sehingga berdampak langsung terhadap sektor industri manufaktur.
Salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah Sugarcreek, Ohio, sebuah desa yang dikenal sebagai "Swiss Kecil Ohio".
Baca Juga:
Wakapolda Jambi Kunjungi Polres Sarolangun, Tekankan Profesionalisme dan Respons Cepat Layanan Masyarakat
Daerah ini mengalami lonjakan tarif listrik seiring meningkatnya kebutuhan energi untuk mengoperasikan pusat data AI.
Belden Brick Company, pabrik bata swasta terbesar di Amerika Serikat, menjadi salah satu perusahaan yang terkena dampak paling signifikan.
Perusahaan yang telah berdiri selama 141 tahun itu mengungkapkan bahwa biaya listrik mereka meningkat drastis sepanjang tahun lalu.