Dikutip dari Reuters, Rabu (8/7/2026), tagihan listrik bulanan Belden Brick melonjak dari sekitar US$1.600 atau sekitar Rp28 juta menjadi US$12.000 atau sekitar Rp216 juta.
Secara keseluruhan, tarif listrik perusahaan tersebut meningkat hingga 90% dalam setahun.
Baca Juga:
Antisipasi Krisis Listrik Saat Kemarau, ALPERKLINAS Dorong PLN Pantau Seluruh PLTA
Belden Brick hanyalah salah satu dari banyak perusahaan manufaktur di Amerika Serikat yang kini menghadapi tekanan biaya operasional akibat pertumbuhan pesat industri data center berbasis AI.
Berdasarkan kajian Reuters terhadap data sektor energi serta hasil wawancara dengan puluhan pelaku industri dan advokat manufaktur, kenaikan tarif listrik yang dialami pabrik berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan tarif listrik rumah tangga maupun sektor bisnis lainnya.
Kondisi tersebut memicu keluhan dari berbagai kalangan kepada pemerintah federal, pemerintah negara bagian, hingga pemerintah daerah.
Baca Juga:
Wakapolda Jambi Kunjungi Polres Sarolangun, Tekankan Profesionalisme dan Respons Cepat Layanan Masyarakat
Selain persoalan kenaikan biaya listrik, muncul pula kekhawatiran mengenai kemampuan jaringan listrik nasional dalam memenuhi lonjakan permintaan energi di masa mendatang.
Sebagai respons, pemerintah mendorong perusahaan-perusahaan teknologi besar agar menanggung porsi biaya listrik yang lebih besar sesuai dengan kebutuhan energi mereka.
Namun, sejumlah usulan kebijakan dinilai masih berpotensi memberatkan industri manufaktur karena menyamaratakan beban antara perusahaan manufaktur dengan perusahaan teknologi raksasa seperti Meta dan Amazon.