Padahal, kebutuhan listrik perusahaan teknologi tersebut diperkirakan dapat mencapai hingga 50 kali lipat dibandingkan kebutuhan perusahaan manufaktur besar.
Lembaga Energi Internasional (IEA) memproyeksikan bahwa data center akan menjadi sektor dengan pertumbuhan konsumsi listrik terbesar di Amerika Serikat selama periode 2025 hingga 2030.
Baca Juga:
Antisipasi Krisis Listrik Saat Kemarau, ALPERKLINAS Dorong PLN Pantau Seluruh PLTA
Konsumsi listrik data center diperkirakan mencapai 203,4 terawatt-hours (TWh), jauh melampaui sektor industri yang diproyeksikan mengonsumsi 62,6 TWh.
Setelah sektor industri, kebutuhan listrik terbesar berikutnya berasal dari sektor transportasi sebesar 58,5 TWh, penggunaan heat pump sebesar 37,8 TWh, pendingin ruangan 28 TWh, gedung lainnya 22,8 TWh, serta sektor-sektor lain yang secara keseluruhan mencapai 12,9 TWh.
Hingga kini Meta menolak memberikan komentar terkait persoalan tersebut, sementara Amazon tidak memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi Reuters.
Baca Juga:
Wakapolda Jambi Kunjungi Polres Sarolangun, Tekankan Profesionalisme dan Respons Cepat Layanan Masyarakat
Para analis kebijakan menilai bahwa tingginya tarif listrik dan ketidakpastian regulasi dapat mengancam masa depan sektor manufaktur Amerika Serikat.
Situasi ini juga dinilai berpotensi menghambat ambisi Presiden AS Donald Trump yang ingin memperkuat industri manufaktur domestik.
Jika kondisi terus berlanjut, banyak perusahaan diperkirakan akan mengambil langkah-langkah penyesuaian, mulai dari menaikkan harga produk, memperlambat ekspansi usaha, hingga mempertimbangkan relokasi fasilitas produksi ke wilayah dengan biaya energi yang lebih rendah.