WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran yang diteken secara digital justru memantik gelombang kritik keras dari sejumlah media AS karena dinilai terlalu menguntungkan Teheran.
Sejumlah media Amerika Serikat menyoroti penandatanganan nota kesepahaman antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang yang disebut telah berlangsung sejak Februari lalu.
Baca Juga:
YLKI Desak Skema Kuota Internet Lebih Adil, Operator Mulai Janji Fitur Rollover
Media-media tersebut mengecam konsesi Presiden AS Donald Trump kepada Iran karena dinilai tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh Washington.
"Gedung Putih menyetujui perpanjangan gencatan senjata ini yang tidak memenuhi tujuan sebelum perang, namun memberikan konsesi keuangan yang sangat besar kepada Teheran," demikian laporan jaringan televisi AS, MS NOW.
Laporan itu menyebut pemerintahan Trump kini berupaya keras membantah anggapan bahwa kesepakatan tersebut menjadi kemenangan diplomatik bagi Iran.
Baca Juga:
Skandal MBG: Kejagung Tetapkan Ketua Yayasan Food Security Jadi Tersangka Baru
"Sekarang, pemerintah berusaha mati-matian untuk berargumentasi sebaliknya. Sederhananya, Trump dipermainkan oleh Iran, dan tidak ada yang mau menerima tawarannya," lanjut laporan MS NOW.
Kritik serupa juga muncul dari Fox News, saluran berita yang selama ini kerap dianggap lebih ramah terhadap pemerintahan Trump.
Fox News mengutip sejumlah kritikus yang menilai perjanjian tersebut memberikan keuntungan finansial besar bagi Iran.
Menurut para pengamat yang dikutip Fox News, Iran justru mendapatkan keuntungan strategis tanpa harus benar-benar menghentikan program nuklirnya secara penuh.
Dalam kesepakatan yang ditandatangani Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Teheran juga disebut akan menerima dana kompensasi berupa komitmen investasi senilai US$300 miliar atau sekitar Rp5.342 triliun.
"Perjanjian Iran yang diusulkan oleh Presiden Donald Trump menuai kritik tajam dari beberapa pendukung terkuatnya, yang berpendapat bahwa perjanjian tersebut memberi manfaat bagi Teheran, sebelum negara itu setuju untuk sepenuhnya menghentikan program nuklirnya," demikian laporan Fox News.
Trump dan Pezeshkian telah menandatangani nota kesepahaman atau MoU secara digital untuk mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat.
Kesepakatan itu mencakup penghentian perang di semua front hingga pencabutan blokade di Selat Hormuz.
Selain itu, Amerika Serikat juga berkomitmen untuk segera menghapus sanksi minyak yang selama ini disebut telah melumpuhkan perekonomian Iran.
Media Wall Street Journal atau WSJ menyebut perjanjian tersebut secara luas dipandang sebagai pertaruhan kebijakan luar negeri terbesar dalam masa jabatan kedua Trump.
"Trump akan menghadapi perlawanan dari kelompok garis keras kebijakan Iran, yang mendatakan bahwa presiden telah menyerah jauh lebih banyak daripada yang ia dapatkan," kutip WSJ.
Kesepakatan ini menjadi sorotan karena muncul di tengah tekanan politik terhadap Trump, terutama dari kelompok pendukung garis keras yang menilai Washington terlalu banyak memberi ruang bagi Teheran.
Di sisi lain, Iran dinilai berhasil memperoleh keuntungan besar dari meja perundingan, mulai dari peluang pemulihan ekonomi hingga pelonggaran tekanan internasional.
Kritik media AS pun mempertegas bahwa perjanjian damai tersebut belum sepenuhnya diterima sebagai kemenangan diplomatik Washington.
Bagi para pengkritik, kesepakatan itu justru menunjukkan posisi Iran yang mampu menekan Amerika Serikat untuk memberikan konsesi besar tanpa jaminan penghentian penuh program nuklirnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]