Disebutkan
pula, China "mengeksplorasi kemungkinan mengembangkan seragam
canggih dan kolaborasi antara manusia dan mesin".
Tulisan
ini disusun sebagian besar mendasarkan pada pendapat pakar strategi China.
Baca Juga:
Profesor India Ditangkap karena Kritik Operasi Sindoor dan Isu Gender di Militer
Namun,
salah seorang penulis artikel tersebut, Elsa Kania, juga mengungkap hal lain.
"Memang
penting mendiskusikan mengapa militer China membahas dan ingin mewujudkan
ambisi mereka, tetapi penting juga untuk mengakui kesenjangan antara ambisi dan
kemampuan teknologi mereka secara riil," kata Kania.
Ia
menjelaskan, militer di seluruh dunia punya ketertarikan yang besar soal
kemungkinan manusia membangun tentara super.
Baca Juga:
Usai Gabung Tentara Rusia Kewarganegaraan RI Satria Eks Marinir Hilang
Namun, pada
akhirnya, semua tersadarkan oleh kenyataan bahwa sains juga punya
keterbatasan, yang membuat ambisi membangun tentara super tak bisa diwujudkan.
Dr
Helen O'Neill, pakar genetika molekuler dari University College London,
Inggris, berpendapat, pertanyaannya bukan soal apakah pengembangangan tentara
super dimungkinkan atau tidak, tetapi lebih ke apakah para saintis mau
menggunakan teknologi yang tersedia.
Ia
mengatakan, teknologi yang dimaksud, penyuntingan genom dan kombinasinya dengan
metode reproduksi berbantu (assisted
reproduction), sudah semakin sering diterapkan di bidang transgenik dan
pertanian.