WAHANANEWS.CO, Idaho - Pertunjukan udara di Amerika Serikat mendadak berubah menjadi momen menegangkan ketika dua jet tempur militer bertabrakan di udara, namun keempat pilot berhasil menyelamatkan diri dengan kursi pelontar pada Minggu (17/5/2026).
Insiden tersebut terjadi saat acara Gunfighter Skies Air Show di Pangkalan Angkatan Udara Mountain Home, negara bagian Idaho.
Baca Juga:
Perang 39 Hari Usai: AS Rugi Besar, 37 Pesawat Hancur
Dikutip dari Newsweek, dua pesawat yang terlibat diidentifikasi sebagai EA-18G Growler milik Angkatan Laut Amerika Serikat.
Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, kedua jet tampak terbang beriringan sebelum salah satunya kehilangan ketinggian.
Pesawat yang menurun itu kemudian menghantam jet lain yang berada di bawahnya hingga keduanya berputar tak terkendali menuju daratan.
Baca Juga:
Dua Jet Tempur AS Dijatuhkan Iran, Teknologi Senyap EO/IR Bongkar Celah Pertahanan Modern
Tim Demonstrasi Growler "Vikings" tercantum sebagai salah satu penampil utama dalam pertunjukan udara tersebut.
Kim Sykes, direktur pemasaran Silver Wings of Idaho, mengatakan tabrakan terjadi sekitar dua mil di barat laut pangkalan.
Meski tidak menyaksikan langsung peristiwa itu, ia melihat kepulan asap membumbung dari lokasi kejadian sesaat setelah tabrakan.
Setelah insiden terjadi, pihak pangkalan segera memberlakukan status lockdown untuk mengamankan area.
Petugas tanggap darurat langsung dikerahkan ke lokasi sementara investigasi resmi dimulai.
"Detail lebih lanjut akan dirilis seiring tersedianya informasi," kata pihak pangkalan dalam pernyataan di media sosial.
Pihak pangkalan juga mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung yang tetap tenang sehingga proses penanganan dapat dilakukan dengan cepat.
Sekitar pukul 13.20 waktu setempat, Departemen Kepolisian Mountain Home mengumumkan bahwa seluruh rangkaian acara pertunjukan udara dibatalkan.
Masyarakat diminta menjauhi area pangkalan agar proses evakuasi dan investigasi berjalan lancar.
EA-18G Growler merupakan varian peperangan elektronik dari F/A-18F Super Hornet yang dirancang untuk mengacaukan radar dan sistem komunikasi musuh.
Pesawat ini bukan jet tempur serang biasa, melainkan platform khusus untuk mendukung operasi militer dengan kemampuan jamming elektronik.
Biaya pengadaan satu unit EA-18G Growler diperkirakan mencapai 60 hingga 70 juta dolar AS atau sekitar Rp1 triliun.
Nilai tersebut dapat meningkat tergantung konfigurasi, paket avionik, dan perlengkapan misi yang disematkan.
Pengembangan Growler disetujui pada 2003, menjalani penerbangan perdana pada Agustus 2006, dan mulai digunakan secara operasional pada 2009.
Hingga kini, pesawat tersebut masih terus diproduksi dan dimodernisasi sebagai salah satu aset penting peperangan elektronik militer Amerika Serikat.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]