WAHANANEWS.CO, Jakarta - Serangan Iran yang berhasil menjatuhkan dua pesawat tempur Amerika Serikat menjadi peristiwa langka yang langsung mengguncang persepsi kekuatan militer global dalam konflik modern, terutama karena insiden seperti ini nyaris tak pernah terjadi dalam lebih dari dua dekade terakhir.
Peristiwa tersebut juga berlawanan dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut kekuatan militer Iran telah “hancur total”, sehingga memunculkan pertanyaan baru tentang efektivitas strategi dan teknologi kedua negara dalam medan tempur aktual.
Baca Juga:
Ancaman Trump Soal Penutupan Selat Hormuz, Iran Respons Tuntut Konpensasi
Pendekatan yang digunakan Iran diduga tidak mengandalkan radar konvensional, melainkan memanfaatkan teknologi sensor optik dan inframerah yang mampu mendeteksi jejak panas pesawat tempur tanpa memancarkan sinyal.
Metode ini bekerja dengan membaca panas mesin serta gesekan badan pesawat di udara, sehingga memungkinkan operator mengunci target secara pasif tanpa terdeteksi oleh sistem peringatan dini lawan.
Dengan teknologi electro-optical/infrared atau EO/IR, sistem dapat mengikuti pergerakan target secara presisi hingga rudal diluncurkan dan mengenai sasaran, menjadikannya berbeda dari radar aktif yang mudah terdeteksi.
Baca Juga:
Intelijen AS Heran, Kekuatan Rudal Iran Tetap Utuh Meski Diserang Berminggu-minggu
Salah satu sistem yang diduga digunakan dalam serangan tersebut adalah rudal Majid (AD-08) buatan dalam negeri Iran yang dirancang untuk menghadapi ancaman udara di ketinggian rendah.
Rudal ini dipasang pada kendaraan taktis Aras-2 (4×4) yang membuatnya fleksibel dan mudah berpindah posisi di medan tempur.
Kemampuannya mencakup deteksi target hingga 15 kilometer tanpa radar, jangkauan serangan dari 700 meter hingga 8 kilometer dengan ketinggian hingga 6 kilometer, serta kecepatan mencapai Mach 2.