Dalam 10 tahun, jumlah mereka
bertambah banyak, walau tidak diketahui angka pastinya.
Namun, dua sumber keamanan mengatakan
kepada AFP, ada sekitar 56.000
personel pasukan khusus yang terdiri dari tentara, polisi, dan dinas intelijen.
Baca Juga:
Indonesia Takkan Diamkan Ancaman Kemanusiaan Kapal Selam Nuklir
"Tentara pemberani ini tidak
pernah kalah perang, dan mereka tidak akan pernah kalah," kata komandan
pasukan AS di negara itu, Jenderal John Nicholson, pada 2017.
Pada tahun yang sama, pasukan elite
Afghanistan menjadi memukau publik karena perannya dalam membunuh Abdul Hasib, Ketua ISIS di Afghanistan.
Namun, sementara Mayor Jenderal Alizai
mengatakan kepada AFP bahwa mereka
sekarang dilatih oleh warga Afghanistan lainnya, analis berpendapat bahwa
pasukan khusus selalu terlalu bergantung pada bantuan asing, mulai dari
pengumpulan intelijen hingga logistik, yang membuat mereka pada dasarnya bisa
jadi lemah setelah penarikan AS dan NATO.
Baca Juga:
China Ancam Serbu Taiwan, Dampaknya Bisa Lebih Dahsyat dari Perang di Ukraina
"Kami melihat kegagalan kebijakan
itu, sekarang ada pengakuan natural bahwa jelas kami perlu melatih unit-unit
ini untuk bertarung sendiri, sehingga mereka tidak membutuhkan kami lagi,"
kata Helmus dari RAND.
Dengan penarikan AS yang hampir
selesai, pasukan elite Afghanistan menjadi garis pertahanan terakhir melawan
Taliban.
"Satu-satunya hal yang menghambat
kemajuan Taliban saat ini adalah pasukan khusus dan angkatan udara," ujar
Vanda Felbab-Brown, rekan senior di Brookings
Institution, kepada AFP, saat milisi belum menguasai Afghanistan.