WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg. Ancaman tersebut langsung dibalas Teheran dengan pernyataan siap melakukan serangan balasan.
Harga minyak dunia berpotensi kembali melanjutkan kenaikan pada pembukaan perdagangan Senin, (15/3/2026) seiring konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki pekan ketiga.
Baca Juga:
Bikin Rontok Subsidi BBM, Ini Dampak Perang Iran Vs Israel ke RI
Melansir Reuters, situasi ini meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi dan membuat Selat Hormuz tetap tertutup di tengah gangguan pasokan terbesar di dunia.
Lonjakan ketegangan ini telah mendorong harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melonjak tajam dan mengguncang pasar keuangan global. Kedua kontrak tersebut tercatat sudah naik lebih dari 40% sepanjang bulan ini hingga mencapai level tertinggi sejak 2022.
Kenaikan harga terjadi setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mendorong Teheran menghentikan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut merupakan titik penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
Baca Juga:
Harga Minyak Dunia di Tengah Sengitnya Perang Israel-Hamas
Trump juga mendesak sejumlah negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengerahkan kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran tersebut. Langkah ini dinilai penting untuk membuka kembali akses energi global yang terganggu.
Militer Amerika Serikat dilaporkan menyerang target militer di Pulau Kharg pada Sabtu. Serangan itu kemudian direspons Iran dengan meluncurkan drone yang menargetkan terminal minyak utama di Uni Emirat Arab.
Analis JP Morgan yang dipimpin oleh Natasha Kaneva menyebut kejadian ini menandai eskalasi baru dalam konflik di kawasan Timur Tengah. Selama ini, menurut mereka, infrastruktur minyak di wilayah tersebut relatif masih terhindar dari serangan langsung.