Selain penghentian program secara langsung, studi itu menyatakan pemangkasan akan menimbulkan efek domino karena merusak kapasitas institusional yang telah dibangun dengan susah payah selama puluhan tahun kerja sama internasional.
Fanjul mengakui perlunya negara-negara melakukan transisi dari sistem yang ada, termasuk ketergantungan mereka pada pendanaan HIV/AIDS internasional.
Baca Juga:
Ribuan Orang Tewas, Demo Iran Disebut Lebih Brutal dari 1979
“Masalahnya adalah kecepatan dan brutalitas prosesnya. Dalam enam bulan, kita mengalami proses yang seharusnya berlangsung selama lebih dari satu dekade,” ujarnya.
Davide Rasella, peneliti utama dalam riset terbaru itu, membandingkan anggaran bantuan dengan kebijakan pemerintah AS yang menjanjikan US$20 miliar untuk menopang Argentina.
“Dalam konteks dunia, jumlah uang seperti itu sebenarnya tidak besar,” kata Rasella.
Baca Juga:
Paus Leo XIV Kecam Diplomasi Berbasis Kekuatan, Serukan Kembalinya Dialog Perdamaian Global
Pembuat kebijakan “mengubah anggaran tanpa benar-benar memahami berapa banyak nyawa yang dipertaruhkan,” lanjutnya.
Penelitian ini didanai oleh Rockefeller Foundation dan kementerian sains Spanyol.
Seorang juru bicara Rockefeller Foundation mengatakan lembaga filantropi yang berbasis di New York itu akan “menantikan publikasi angka yang telah melalui peer review, yang akan semakin memperjelas biaya kemanusiaan akibat ketidakbertindakan dan peluang besar yang masih kita miliki untuk menyelamatkan nyawa.”