McNally memperkirakan harga kontrak berjangka minyak mentah dapat melonjak 5 hingga 7 dollar AS per barel saat perdagangan dibuka karena pasar mulai mengalkulasi risiko geopolitik yang meningkat tajam.
Pada perdagangan terakhir, harga minyak mentah Brent ditutup di level 72,48 dollar AS per barel atau naik 2,45 persen sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,78 persen ke posisi 67,02 dollar AS per barel.
Baca Juga:
Harga Emas Hampir Rp 3 Juta, Sinyal Ekonomi Global Sedang Bermasalah
Menurutnya, Iran berpotensi meningkatkan tekanan dengan menciptakan ketidakamanan di Selat Hormuz sehingga lalu lintas kapal komersial terganggu dan risiko lonjakan harga minyak menembus 100 dollar AS per barel semakin terbuka.
“Penutupan Selat Hormuz dalam waktu yang berkepanjangan hampir pasti akan memicu resesi global,” kata McNally.
Data firma konsultan energi Kpler menunjukkan lebih dari 14 juta barel minyak per hari atau sekitar sepertiga total ekspor minyak laut dunia melewati Selat Hormuz sepanjang 2025 dengan mayoritas dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Baca Juga:
Harga Emas Antam Anjlok Rp16 Ribu, Pasar Logam Mulia Berguncang
China sendiri tercatat menerima setengah impor minyak mentahnya melalui jalur strategis tersebut sehingga gangguan distribusi akan berdampak luas pada ekonomi global.
Selain minyak, sekitar 20 persen ekspor gas alam cair dunia terutama dari Qatar juga melintasi Selat Hormuz sehingga gangguan jalur itu berisiko menekan pasokan energi global dalam waktu singkat.
Analis Kpler Matt Smith menyebut lebih dari 20 juta barel minyak mentah telah dimuat untuk ekspor dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.