Kedisiplinan dan etos kerja ditanamkan kuat oleh orang tuanya, bahkan sang ibu belajar bahasa Inggris bersama anak-anaknya dan meminta mereka menghafal sepuluh kosakata baru setiap hari.
Pada usia sembilan tahun, Huang dan kakaknya dikirim lebih dulu ke Amerika Serikat dan tinggal di sekolah berasrama Oneida Baptist Institute di Kentucky yang dikenal dengan aturan ketatnya.
Baca Juga:
Profil 5 Pengembang Properti Top Indonesia: Dari PANI hingga Ciputra Development
Beberapa tahun kemudian keluarga mereka kembali berkumpul dan menetap di Portland, Oregon, tempat Huang menamatkan pendidikan menengah atas pada usia 16 tahun.
Setelah lulus SMA, ia bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran khas Amerika untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dari pekerjaan sederhana itulah, diakuinya, ia belajar tentang tanggung jawab, efisiensi, dan kerendahan hati.
Baca Juga:
HSG Merosot Pasca Peluncuran Danantara, Rosan: Kini Mulai Rebound
Pernah pula ia dipromosikan menjadi pelayan restoran, sebuah momen kecil yang selalu dikenangnya sebagai simbol ketekunan dan kerja keras yang membuahkan hasil.
Pendidikan tinggi kemudian ditempuhnya di Oregon State University dengan mengambil jurusan teknik elektro, tempat ia bertemu calon istrinya, Lori, yang merupakan rekan satu laboratorium.
Setelah lulus pada 1984, ia memulai karier profesional di perusahaan semikonduktor besar seperti AMD dan LSI Logic, dua nama yang kelak menjadi rival Nvidia di industri chip global.