Momentum pengumuman perjanjian ini dinilai krusial karena Israel dalam setahun terakhir memperluas serangannya dari Gaza menjadi operasi regional.
Serangan udara Israel dilaporkan menyasar Lebanon, Suriah, Irak, Yaman, hingga Iran.
Baca Juga:
Setelah Bom dan Darah, Krisis Kesehatan Mental Menerjang Israel dan Gaza
Para pengkritik menilai eskalasi tersebut bukan sekadar respons militer terbatas, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat hegemoni Israel di kawasan.
Dalam konteks tersebut, pakta Pakistan, Turki, dan Arab Saudi dipandang sebagai upaya kolektif untuk menantang impunitas Israel yang dinilai mendapat perlindungan dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Kesepakatan ini juga mencerminkan kekecewaan yang meluas terhadap kegagalan lembaga keamanan multilateral dalam menghentikan kekerasan dan genosida di Gaza.
Baca Juga:
Pesawat ATR 42-500 IAT Kecelakaan, Pabrikan Turun Langsung ke Lokasi
Pada konferensi pers di Istanbul, Kamis (12/1/2025), Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengonfirmasi bahwa pembicaraan antarnegara telah berlangsung.
“Saat ini ada pertemuan dan pembicaraan, tetapi kami belum menandatangani perjanjian apa pun,” kata Hakan Fidan.
Ia memperingatkan bahwa perpecahan internal di kawasan justru membuka ruang bagi dominasi eksternal dan konflik berkepanjangan.