Trump bahkan menyebut bahwa perubahan pemerintahan di Iran akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi, pernyataan yang memicu respons beragam dari berbagai pihak.
Pengumuman tersebut muncul setelah berlangsungnya perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran di Oman pekan lalu.
Baca Juga:
Kepala Puskesmas Kebun IX Muaro Jambi Kenakan Rompi Tahanan Kasus Bantuan Operasional Kesehatan
Dialog itu menjadi upaya terbaru kedua negara untuk meredakan ketegangan pascakonflik yang sempat memanas beberapa waktu terakhir.
Pengiriman USS Gerald R. Ford sekaligus menambah akumulasi kekuatan militer Amerika Serikat yang telah lebih dulu disiagakan di kawasan.
Sebelumnya, kapal induk USS Abraham Lincoln telah lebih dulu dikerahkan bersama sejumlah kapal perusak berpemandu rudal, jet tempur, serta pesawat pengintai untuk memperkuat postur pertahanan.
Baca Juga:
Buntut Ancaman Tarif AS, Kuba Menangis Kehabisan Bahan Bakar Pesawat
Peningkatan kehadiran militer ini tak lepas dari konflik 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu yang meningkatkan risiko eskalasi regional.
Dalam konflik tersebut, Amerika Serikat turut terlibat dengan menyerang tiga lokasi nuklir Iran melalui operasi militer bertajuk Operation Midnight Hammer.
Saat itu, Trump mengklaim bahwa serangan tersebut telah sepenuhnya menghancurkan fasilitas nuklir Iran.