Langkah Washington juga beriringan dengan pertemuan Trump bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Washington.
Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu menyampaikan harapannya terhadap tercapainya “kesepakatan yang baik”, namun menekankan bahwa perjanjian tersebut harus mencakup pembatasan program rudal balistik Iran.
Baca Juga:
Kepala Puskesmas Kebun IX Muaro Jambi Kenakan Rompi Tahanan Kasus Bantuan Operasional Kesehatan
Di sisi lain, Teheran secara terbuka menolak tekanan Amerika Serikat untuk memasukkan isu rudal balistik dalam agenda perundingan.
Perundingan terbaru ini menjadi yang pertama digelar sejak konflik Juni, yang sebelumnya menghentikan pembicaraan mengenai kemungkinan pengganti Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Kesepakatan nuklir tersebut sebelumnya membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi internasional.
Baca Juga:
Buntut Ancaman Tarif AS, Kuba Menangis Kehabisan Bahan Bakar Pesawat
Namun, pada 2018 Trump memutuskan menarik Amerika Serikat dari JCPOA, kebijakan yang kemudian mendorong Iran memperkaya uranium melampaui batas yang telah disepakati.
Sementara itu, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengaku masih menghadapi kesulitan dalam mengakses sejumlah lokasi yang menjadi sasaran serangan.
Kondisi ini menambah kompleksitas upaya verifikasi dan pemantauan program nuklir Iran.