“Oleh karena itu, sudah saatnya untuk memikirkan penutupan pangkalan-pangkalan Amerika, karena pangkalan-pangkalan tersebut merupakan beban dan bukan aset strategis.”
Lebih lanjut, Abdulla memperingatkan bahwa keberlanjutan kehadiran militer AS dapat menyeret UEA ke dalam konflik regional yang sebenarnya bukan bagian dari kepentingan langsung negara tersebut.
Baca Juga:
Bareskrim Bongkar Sindikat HP Ilegal Rp235 Miliar, Ribuan iPhone Disita
Pandangan berbeda disampaikan oleh Nadim Koteich, komentator yang berbasis di UEA, yang menilai hubungan antara Washington dan Abu Dhabi tidak bisa dipersempit hanya pada aspek militer semata.
“Washington telah terbukti sebagai sekutu yang dapat diandalkan di setiap bidang penting, dan tidak ada yang lebih terlihat daripada selama perang ini.”
Ia menilai bahwa melihat hubungan tersebut hanya dari sisi keamanan merupakan kesalahan dalam memahami kedalaman aliansi kedua negara.
Baca Juga:
Drama Rumah Tangga Berujung Hukum, Suami Diduga Gelapkan Uang Mertua Rp4,7 Miliar
“Namun, mereduksi hubungan hanya pada dimensi militer dan keamanannya salah menafsirkan apa yang sebenarnya telah menjadi aliansi tersebut, dan mengarah pada kesimpulan yang terburu-buru.”
Koteich juga menekankan bahwa Amerika Serikat telah menjadikan UEA sebagai mitra strategis dalam sektor teknologi dan industri di kawasan.
“Memperkuat poros Abu Dhabi-Washington adalah jalan ke depan, didukung oleh jaringan pilar keuangan, regulasi, energi, dan pertahanan yang canggih yang sudah ada.”