Penolakan Ukraina
Melansir Kompas, perundingan pertama antara Rusia dan Ukraina setelah Rusia meluncurkan operasi militer khusus di Ukraina dilangsungkan di Belarus pada awal Maret 2022, namun tidak menghasilkan kesepakatan yang konkret.
Baca Juga:
Siap Kuasai Udara, Rusia Tampilkan Prototipe Senjata Laser Antidrone
Putaran negosiasi baru dilakukan di Istanbul pada 29 Maret 2022, setelahnya Kepala Delegasi Rusia, Penasihat Presiden Vladimir Medinsky, mengumumkan bahwa Moskow untuk pertama kalinya menerima prinsip-prinsip Ukraina mengenai kemungkinan kesepakatan di masa depan secara tertulis, yang mengamanatkan, antara lain, status Ukraina yang netral dan nonblok serta penolakan Ukraina untuk menggelar pasukan dan persenjataan asing, termasuk senjata nuklir di wilayahnya.
Kemusian kemudian menarik pasukannya dari wilayah Kiev dan Chernigov. Namun, perundingan penyelesaian damai sepenuhnya terhenti setelah itu dan, seperti yang dikatakan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, Kiev menarik diri dari kesepakatan yang dicapai di Istanbul.
Pada bulan Oktober tahun lalu, Presiden Ukraina Vladimir Zelensky mengesahkan keputusan Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional negaranya yang melarang semua negosiasi dengan Putin.
Apa saja yang jadi masalah utama perundingan tahun 2022 di Istanbul?
Baca Juga:
Perang Makin Panas, Rusia Lancarkan 90 Drone Shahed Iran ke Ukraina
Pencaplokan Wilayah
Wilayah adalah bagian terberat dari perundingan karena menyangkut kedaulatan dan integritas teritorial. Rusia memasukkan Krimea menjadi wilayah Federasi Rusia pada 2014 berdasarkan referendum rakyat Krimea di tahun yang sama. Barat saat ini menyebutnya dengan terminologi 'pencaplokan'.
Selain itu, pada 21 Februari lalu, Rusia resmi mengakui dua wilayah pemberontak yang didukung Rusia di Ukraina timur sebagai negara merdeka. Dua wilayah itu adalah Donetsk dan Lugansk.