WAHANANEWS.CO - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Taruna Ikrar, memastikan stok obat di Indonesia masih aman hingga enam bulan ke depan meski tekanan geopolitik global akibat konflik di Timur Tengah berpotensi mengerek harga.
Taruna menjelaskan lebih dari 50 persen kemasan obat berasal dari produk petrokimia yang bergantung pada turunan minyak bumi seperti plastik, etanol, hingga fenol, sehingga gejolak global otomatis ikut memengaruhi rantai produksi dan harga obat.
Baca Juga:
Kemenkes Siapkan Vaksinasi Campak Dewasa, Prioritaskan Tenaga Kesehatan di Daerah KLB
"Kita tahu bahwa geopolitik terjadi sekarang ini yang berhubungan dengan harga obat, kita paham itu. Dan pada umumnya ada dua obat itu produknya. Kemasannya itu lebih 50% itu merupakan petrokimia. Artinya residu-residu dari bahan yang diproduksi dari minyak. Itu kemasannya, plastiknya dan sebagainya, kayak etanol, fenol, itu kan pembuatan kemasan," kata Taruna di kompleks parlemen, Senayan, Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan sekitar 30 persen obat kimia juga berasal dari turunan petrokimia, termasuk bahan baku untuk obat umum seperti Paracetamol dan Ibuprofen, sehingga ketergantungan impor bahan baku yang mencapai lebih dari 90 persen membuat harga obat rentan terdampak kondisi global.
"Kemudian beberapa obat juga sekitar 30% dari obat kimia yang beredar itu adalah juga turunan dari petrokimia, yang berhubungan misalnya bahan baku yang berhubungan dengan misalnya parasetamol. Itu adalah turunan kimia dari obat-obat, kemudian beberapa ibuprofen yang merupakan obat antiinflamasi asalnya dari petrokimia," ujar Taruna.
Baca Juga:
Perkuat Keamanan Pangan, Pemkot Jakpus dan BBPOM Teken Komitmen Bersama
"Nah, jadi kesimpulannya geopolitik internasional yang sekarang ini pasti berpengaruh, apalagi bahan baku, intermediate product, bahkan biosimilar itu lebih 90% kita impor. Jadi tentu ini akan berdampak kepada harga obat," sambungnya.
Meski demikian, Taruna menegaskan ketersediaan obat nasional masih terkendali untuk jangka pendek, namun pemerintah tetap harus bersiap jika konflik berlangsung lebih lama.
"Nah, selama ini kita masih aman sampai sekitar hitungan kemarin dengan gabungan pengusaha farmasi, bisa sampai 6 bulan ke depan masih aman. Ya tapi kan kalau ini perang berlanjut terus akan berpengaruh," ujarnya.