“Temukan sebanyak-banyaknya supaya bisa cepat diobati. Pengobatannya relatif singkat, sekitar enam bulan,” kata Budi.
Selain meningkatkan skrining, Kemenkes juga akan memperkuat sistem surveilans penyakit kusta, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
Baca Juga:
PLN Salurkan Alat Deteksi Preeklamsia Berbasis AI untuk Tekan Angka Kematian Ibu
Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi genome sequencing untuk mendeteksi kemungkinan reaksi obat tertentu.
Teknologi tersebut digunakan untuk mengantisipasi reaksi terhadap obat dapsone yang dapat memicu kondisi serius bernama Dapsone Hypersensitivity Syndrome.
“Kalau ada yang sensitif terhadap dapsone, paket obatnya harus diganti. Karena bisa menyebabkan kematian,” ujarnya.
Baca Juga:
Kemenkes Terapkan Label Nutri-Level Bertahap, Dorong Masyarakat Lebih Sadar Gizi
Sementara itu, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalusia, menyampaikan bahwa program CKG kini juga menambahkan sejumlah pemeriksaan penyakit kulit dan infeksi lainnya.
Menurutnya, program tersebut kini mencakup skrining untuk penyakit Scabies, kusta, serta Frambusia. Penambahan ini dilakukan berdasarkan pola penyakit yang ditemukan di masyarakat serta hasil temuan di lapangan.
“Ada beberapa penambahan pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan pola penyakit yang ada dan juga temuannya. Karena itu, ada penambahan pemeriksaan untuk scabies, kusta, dan frambusia,” kata Lucia Rizka Andalusia.