Ia memaparkan bahwa ayam petelur komersial dipelihara untuk menghasilkan telur konsumsi setiap hari, sementara ayam pedaging seperti broiler komersial difokuskan untuk produksi daging dengan masa pemeliharaan singkat.
“Ayam broiler komersial hanya dipelihara singkat, sekitar lima minggu, lalu dipotong. Jadi ayam pedaging tidak sampai bertelur,” terang Prof. Niken.
Baca Juga:
Namanya Diseret Terkait Penangkapan Telur Ayam Tanpa Dokumen, Ini Tanggapan Bupati Nias Barat
Berbeda dengan broiler komersial, ayam pedaging bibit atau breeder broiler dipelihara untuk menghasilkan telur fertil yang nantinya ditetaskan menjadi anak ayam broiler dan bukan untuk dikonsumsi manusia.
Ia menegaskan bahwa meskipun kandungan gizi telur fertil seperti protein dan asam amino esensial tidak jauh berbeda dari telur konsumsi, faktor keamanan dan daya simpannya menjadi persoalan utama.
Telur fertil lebih rentan rusak karena adanya embrio hidup yang sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembapan sehingga membutuhkan penanganan khusus.
Baca Juga:
Pemerintah Tambah Daging dan Telur ke dalam Bansos Bulan September hingga November 2024
Selain itu, ia menambahkan bahwa peredaran telur fertil di pasar umum juga dapat mengganggu stabilitas harga telur konsumsi karena telur dari industri pembibitan seharusnya tidak masuk ke rantai distribusi umum.
Sebagai panduan bagi masyarakat, Prof. Niken memaparkan cara sederhana membedakan telur konsumsi dan telur fertil melalui warna kerabang, bentuk telur, serta penandaan atau kode produksi pada cangkang.
“Pemahaman ini penting agar masyarakat dapat memilih telur yang aman, bergizi, dan sesuai peruntukannya,” pungkas Prof. Niken.