WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan (Kemenkes) Budi Gunadi Sadikin mewanti-wanti risiko obesitas pada angka kematian dini di Indonesia. Ia menjelaskan obesitas sangat berkaitan dengan tekanan darah tinggi dan kolesterol yang dapat memicu berbagai penyakit serius.
Menkes membandingkan rata-rata hidup masyarakat Indonesia dengan Denmark. Ia menyebut warga Denmark memiliki pola hidup yang lebih sehat, sehingga harapan hidupnya lebih panjang. Hal ini sejalan dengan laporan obesitas di Denmark yang relatif rendah, di bawah 20 persen.
Baca Juga:
Hati-hati! Antibiotik Bisa Picu Obesitas dan Gangguan Otak
"Average life expectancy Denmark itu 82-83 tahun, Indonesia 70-73 tahun. Jadi ada selisih 10 tahun," ucapnya dalam talkshow World Obesity Day 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Menkes menekankan obesitas bukan hanya mempengaruhi penampilan fisik. Hal itu juga berkaitan langsung dengan kondisi kesehatan masyarakat.
Maka dari itu, Menkes mengingatkan betapa pentingnya menjaga ukuran lingkar perut agar tetap ideal.
Baca Juga:
Krisis Obesitas Global: 60% Orang Dewasa Terancam Kelebiham Bobot Tubuh pada 2050
"Kalau laki-laki lingkar perut harus di bawah 90 cm, perempuan di bawah 80 cm. Ini bukan soal fisik, tapi soal kesehatan," tegas dia.
Menkes saat ini juga mendorong penerapan label nutrisi atau 'Nutri Level' di pusat perbelanjaan dan jaringan kedai kopi. Program tersebut diterapkan untuk membantu masyarakat memahami kandungan gizi makanan dan minuman dengan cara yang lebih mudah.
"Pemerintah lakukan, kita educate the market dengan labeling. Saya harap nanti implementasinya segera. Ada mal yang mau mulai pakai," sambung Menkes.
Sistem Nutri Level ini akan diterapkan dengan menampilkan kategori nilai gizi, dari level A hingga level D. Produk yang lebih sehat dan rendah kalori akan memperoleh label lebih baik, dibandingkan produk dengan kadar gula atau kalori yang tinggi.
"Ada beberapa coffee chain sudah mau. Di seluruh coffee shop-nya nanti mereka akan pasang label, misalnya matcha coffee D, americano A," terang dia.
Menurutnya, pendekatan gaya hidup menjadi strategi yang lebih efektif untuk mengubah perilaku masyarakat dibandingkan sekadar penegakan aturan. Dalam hal ini, pemerintah ingin membangun persepsi bahwa memilih makanan dan minuman sehat merupakan bagian dari tren positif di kalangan anak muda.
“Bahasa anak zaman sekarang itu FOMO, Fear of Missing Out. Jadi, orang akan lihat kalau minum matcha coffee itu tidak cool, tapi kalau minum americano itu A," kata Menkes.
"Zero calorie, everybody lihat sangat cool, semua larinya ke sana," lanjutnya.
Meski begitu, pemerintah tetap perlu mengatur konsumsi makanan dan minuman di masyarakat. Tetapi, Menkes ingin pendekatannya lebih mengedepankan edukasi dibandingkan penindakan langsung.
[Redaktur: Alpredo Gultom]