Selain faktor keluarga, tekanan dari lingkungan sosial juga menjadi penyebab penting.
Budi menyoroti kasus perundungan di sekolah yang dapat memicu tekanan mental pada anak hingga berujung pada gangguan psikologis.
Baca Juga:
PLN Salurkan Alat Deteksi Preeklamsia Berbasis AI untuk Tekan Angka Kematian Ibu
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah berencana memperluas program skrining kesehatan jiwa agar potensi gangguan mental pada anak bisa diketahui lebih awal.
“Kita harus mengedukasi bukan hanya anaknya, tetapi juga orang tuanya, terutama ibu-ibu. Banyak yang tidak sadar bahwa pola asuh tertentu bisa membuat anak mengalami kecemasan hingga depresi,” kata Budi.
Dalam upaya pencegahan, pemerintah juga akan melibatkan para tenaga pendidik di sekolah.
Baca Juga:
Kemenkes Terapkan Label Nutri-Level Bertahap, Dorong Masyarakat Lebih Sadar Gizi
Guru diharapkan mampu mengenali tanda-tanda tekanan psikologis pada siswa, termasuk mengidentifikasi kasus perundungan yang terjadi di lingkungan pendidikan.
“Kami juga tetap membuka layanan bantuan darurat. Sehingga anak-anak yang mengalami tekanan bisa segera menghubungi layanan bantuan,” ucap Menkes Budi.
Sementara itu, Lestari Moerdijat selaku Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia menilai bahwa penanganan masalah kesehatan mental anak dan remaja memerlukan komitmen kuat dari berbagai pihak.