Upaya penguatan holdingisasi, restrukturisasi keuangan, pembenahan tata kelola perusahaan, hingga penajaman fokus bisnis pada sektor kesehatan dinilai sebagai langkah strategis yang mampu memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi tantangan industri.
“Perbaikan kinerja keuangan yang mulai terlihat sepanjang tahun 2025 dan berlanjut pada Triwulan I Tahun 2026 dinilai sebagai sinyal positif atas berbagai langkah pembenahan yang telah dilakukan. Namun, capaian tersebut harus menjadi fondasi bagi transformasi yang lebih mendasar dan berkelanjutan,” jelasnya.
Baca Juga:
Kadis Kominfo Karo: Jaga Integritas dan Kwalitas Data Dilapangan Agar Memiliki Pemahaman Yang Matang
Meski demikian, Anggia menilai tantangan yang dihadapi Bio Farma Group ke depan tidak hanya berkaitan dengan pemulihan kinerja korporasi semata.
Lebih dari itu, perusahaan dituntut mampu membangun daya tahan industri kesehatan nasional dalam jangka panjang.
Salah satu tantangan utama yang masih harus diatasi adalah tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku farmasi, bahan kemasan, serta berbagai peralatan dan mesin produksi yang digunakan dalam industri kesehatan nasional.
Baca Juga:
Banggar DPR Ingatkan Tantangan Fiskal 2027, Pembayaran Utang dan Program Prioritas Harus Berjalan Seimbang
Selain persoalan tersebut, kebutuhan untuk memperkuat kegiatan riset dan pengembangan produk juga menjadi perhatian serius.
Investasi pada fasilitas biologik, pengembangan teknologi farmasi modern, serta percepatan adaptasi terhadap perkembangan teknologi kesehatan global seperti biologics, platform mRNA, dan teknologi rekombinan lainnya dinilai sangat penting untuk meningkatkan daya saing industri farmasi nasional.
Politisi Fraksi PKB itu juga menyoroti efektivitas holdingisasi BUMN farmasi yang telah berjalan sejak tahun 2020.