Sebenarnya, efek samping perubahan warna kulit akibat obat ini sudah diketahui dalam dunia medis, namun kasus wanita ini tergolong sangat unik karena prosesnya yang instan.
"Kondisi ini biasanya baru berkembang setelah berbulan-bulan menjalani pengobatan (jangka panjang), namun dalam kasus yang jarang terjadi, bisa muncul dalam durasi pengobatan yang sangat singkat," tulis laporan kasus tersebut.
Baca Juga:
Hati-hati! Antibiotik Bisa Picu Obesitas dan Gangguan Otak
Secara ilmiah, hal ini terjadi karena hasil pembuangan (metabolit) dari antibiotik tersebut mengikat zat besi di dalam tubuh, lalu menumpuk di dalam sel imun kulit. Obat ini juga memicu sel penghasil melanin (pigmen warna kulit) menjadi terlalu aktif, sehingga menciptakan gumpalan pigmen gelap yang tertinggal di jaringan kulit.
Proses Pemulihan Memakan Waktu Lama
Melihat kondisi tersebut, tim dokter langsung meminta pasien untuk segera menghentikan konsumsi Minosiklin. Pasien juga disarankan untuk menghindari paparan sinar matahari, karena sinar ultraviolet dapat memperburuk kondisi pigmen gelap tersebut.
Baca Juga:
Polisi Beberkan Hasil Autopsi Sementara Kasus Wartawan Tewas di Jakarta Barat
Setelah enam minggu pengobatan dihentikan dan dilakukan evaluasi selama setengah tahun, bercak hitam-biru di tubuh wanita tersebut dilaporkan mulai memudar, namun bekasnya masih terlihat jelas.
Dunia medis mencatat bahwa begitu seseorang berhenti minum obat ini, pigmentasi gelap di kulit memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk benar-benar hilang sepenuhnya. Bahkan pada beberapa tipe kasus tertentu, perubahan warna kulit tersebut bisa bersifat permanen dan tidak akan pernah hilang.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.