WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dunia medis tengah dikejutkan oleh temuan langka di atas kapal pesiar MV Hondius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa wabah mematikan yang menewaskan tiga penumpang di kapal tersebut diduga kuat melibatkan penularan antarmanusia, sebuah fenomena yang menurut para ilmuwan sangat jarang terjadi dalam penularan hantavirus.
Baca Juga:
Waspada Ketagihan Gula, Ahli Gizi Ungkap Dampak Rasa Manis bagi Otak
"Asumsi kami adalah mereka terinfeksi sebelum naik ke kapal, namun kami meyakini mungkin ada penularan dari manusia ke manusia yang terjadi di antara kontak yang sangat dekat, seperti pasangan suami istri atau orang yang berbagi kabin," ujar Maria Van Kerkhove, ahli epidemiologi dan penasihat teknis WHO, dikutip Rabu (6/5/2026)
Hantavirus umumnya hanya menyebar melalui partikel udara dari kotoran atau urine tikus. Namun, para ahli mencurigai wabah ini dipicu oleh Varian Andes, satu-satunya jenis hantavirus di dunia yang diketahui bisa menular antarmanusia melalui kontak cairan tubuh yang sangat dekat.
Sabra Klein, profesor di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, menekankan betapa sulitnya virus ini menyebar dibanding virus pernapasan lain.
Baca Juga:
Fasilitas Kesehatan Rusak Parah, Iran Terancam Kekurangan Alat Medis Penting
"Ini tidak seperti Covid. Varian Andes memerlukan tingkat kontak yang signifikan dengan cairan tubuh. Studi kasus menunjukkan penyebaran biasanya terjadi di antara pasangan suami istri atau orang yang tinggal bersama secara intim. Ini masih sangat langka," jelas Klein kepada NBC News.
Varian ini sangat berbahaya dengan tingkat kematian mencapai 40 persen, jauh lebih tinggi dibanding varian Sin Nombre di Amerika Serikat yang memiliki tingkat fatalitas 25 persen. Hingga saat ini, tidak ada obat atau vaksin khusus, dokter hanya bisa memberikan perawatan suportif seperti terapi oksigen untuk menstabilkan kondisi pasien.
Nasib Penumpang dalam Karantina